Keinginan mereka dikabulkan. Pada 1987, Departemen Agama (Depag) membangun sebuah masjid di Margaluyu akhir tahun 1987. Persoalan tak berhenti di situ, karena belum ada ustadz dari orang Baduy asli. Mereka harus memanggil ustadz dari desa sekitar dan dari Yayasan Jamiati Washliah yang selama ini membimbing.
Kesedihan masih menyelimuti Amad meski cahaya Islam yang menyinari desanya karena ayahnya belum mau masuk Islam. Dia berdoa sepanjang malam supaya hati ayahnya terbuka, mendapat hidayah.
Doanya yang dipanjatkan Amad tak sia-sia. Ayahnya yang mantan kepada desa Baduy Luar akhirnya ikut masuk Islam. Bahkan, sang ayah memperoleh tawaran menunaikan ibadah haji dari Depag Rangkasbitung yang semakin menambah kebahagiaannya.
Ayahnya Amad pun tercatat sebagai orang Baduy pertama yang naik haji. Tiga tahun setelah naik haji, ayahnya dipanggil Yang Maha Kuasa.
Seiring waktu, giliran Amad yang memenuhi panggilan Allah SWT ke Tanah Suci pada 1990. Amad merasa terharu bisa melihat seluruh umat Islam berbagai warna kulit berkumpul, bersatu di Makkah.
”Ketika naik haji, saya merasa aneh karena beda alam. Di sini dingin, di Arab panas, cuma ada batu dan gunung,” ujarnya.
Amad semakin giat melakukan syiar Islam dengan gelar haji yang disandangnya.
Artikel ini pernah ditulis Doddy Handoko
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.