Di tengah keresahannya, muncul keinginan Amad untuk menjadi Muslim. Hingga dirinya berbicara dengan kawan-kawannya bahwa hatinya terdorong masuk Islam.
Amad pun mengucap syahadat di kantor desa, dibimbing oleh pegawai Depag dari Rangkasbitung bernama Isnaeni. Ia menjadi Muslim.
Amad masih tinggal di Desa Kanekes setelah menjadi Muslim. Namun, dirinya bersama warga Baduy yang beragama Islam dimukimkan oleh Depsos di Margaluyu pada 1987.
Bedol desa diikuti sekitar 80 kepala keluarga berjumlah 200 orang. Namun, yang bertahan cuma 47 kepala keluarga (KK), sedangkan sebagian lagi memilih kembali ke Baduy Luar.
Untuk tetap membuat warga Baduy bersemangat dalam belajar agama bukan hal yang mudah. Berbagai cara dilakukan, seperti setiap malam didakan acara membaca surat Yasin atau Yasinan dari rumah ke rumah dengan sistem undian.
Namun, mengaji dari rumah ke rumah kurang memuaskan warga Margaluyu lantaran mereka memimpikan memiliki sebuah masjid. Upaya pembuatan masjid dilakukan dengan mengajukan proposal kepada Pemda Rangkasbitung.