JAKARTA - Sultan Amangkurat I konon memerintah di Mataram dengan cukup kejam. Telah banyak orang yang terpaksa dihukum mati atau dibunuh konon hanya karena berselisih paham dengannya.
Hal itulah menimbulkan keresahan di masyarakat, termasuk sang adik tirinya sendiri Pangeran Alit. Apalagi beberapa abdi Pangeran Alit ditangkap dan disiksa oleh Sultan Amangkurat I yang berkuasa di Mataram.
BACA JUGA:
Beberapa di antaranya terpaksa menyebut sejumlah pemuka agama agar bisa selamat.
Tetapi konon tetap saja mereka dihabisi nyawanya sebagaimana dikutip dari "Disintegrasi Mataram : Di bawah Mangkurat I", dari H.J. De Graaf. Pangeran Alit pun meradang dan tak lagi mampu menahan diri dengan kesewenang-wenangan kakaknya.
BACA JUGA:
Alhasil peperangan antara Sultan Amangkurat I dan Pangeran Alit tak terelakkan lagi. Pangeran Alit lantas membawa 50 sampai 60 orang dari abdi dan pasukannya yang berjumlah 300 orang itu, sebagaimana catatan dari Van Goens.
Ia bertekad bulat untuk mengakhiri nyawa sang Raja Mataram itu dalam "pertarungan berdarah penghabisan". Konon pertarungan ini ditentukan di dua hari tepat, yakni Senin atau Kamis. Tatkala raja berkenan memberi audiensi dan banyak rakyat turut hadir, Pangeran Alit pun berkuda pergi ke alun-alun.
Tetapi atas perintah raja, para pengawal Mataram dengan cepat dapat membunuh para pengiring Pangeran Alit. Pangeran itu sendiri tidak diapa-apakan bahkan kudanya pun tidak terluka. Namun, 20 pengawal raja itu membiarkan diri mereka jadi korban keris panjang Pangeran Alit.
Dengan janji akan diberi pengampunan serta kesetiaan, pemuda nekat itu tidak dapat dibujuk agar menghentikan serangannya. Oleh karena itu, Sultan Amangkurat I memerintahkan agar membunuh kuda Pangeran Alit terlebih dahulu. Hal yang akhirnya segera dilaksanakan para pengawal raja itu.
Tetapi Pangeran Alit dengan berjalan kaki tetap berusaha mendekati saudaranya. Tetapi karena dijaga pengawal banyak sekali, maka niatnya tidak sampai terwujud.