JAKARTA – Bekas rumah dinas perwira Kaigun (Angkatan Laut Jepang) yakni Laksamana Muda Tadashi Maeda menjadi saksi Ir Soekarno, Mohammad Hatta, dan Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo “melahirkan” teks proklamasi.
Rumah besar yang terletak di Jalan Imam Bonjol No 1, Jakarta Pusat, itu kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Melansir pemberitaan Okezone, rumah tersebut memiliki saat awal berdirinya rumah bergaya arsitektur Eropa (Art Deco) ini. Rumah dua lantai yang dirancang arsitek Belanda, J.F.L. Blankenberg ini didirikan pada 1927. Pemilik pertamanya adalah Asuransi Jiwasraya yang dulu bernama Nederlandsch Indiesche Levensverzekering en Liffrente Maatschappij (NILLMIJ).
Konsulat Jenderal Inggris kemudian sempat menempati rumah ini ketika Perang Pasifik pecah dan ketika Jakarta sudah dikuasai Jepang, rumah tersebut dicaplok Teikoku Kaigun (AL Jepang), untuk digunakan sebagai Kantor Penghubung AL dan AD Jepang yang dikepalai Maeda.
Singkat kata pasca-kemerdekaan, sejumlah bangunan dinasionalisasikan, tak terkecuali rumah bekas Maeda ini. NILLMIJ yang sudah “disulap” jadi Asuransi Jiwasraya di bawah kewenangan Departemen Keuangan pada masa itu, kembali menempati rumah ini hingga 1961.
Di tahun itu, rumah ini ditempati Kedutaan Besar Inggris selama dua dekade. Perpustakaan Nasional juga tercatat pernah menjadikan rumah ini sebagai kantornya hingga 1982.
Namun setelah itu rumah ini ditinggalkan dan dalam kondisi kosong selama lima tahun.
“Dulu rumah ini depannya tertutup seng saja. Enggak ada orang yang tahu bahwa dulu ini rumah bersejarah,” jelas kurator Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jaka Perbawa.
“Tahun 1982 atas inisiatif Mendikbud saat itu, Prof. Nugroho Notosusanto, rumah ini diinstruksikan jadi museum. Tapi tentunya setiap museum harus punya kisah dan koleksi. Untuk melengkapi semua yang ada di sini, kami mewawancarai tokoh-tokoh, sampai menghubungi Kedutaan Besar Jepang,” tambahnya.
Dari Kedubes Jepang itulah didapati kontak mantan sekretaris rumah tangga Maeda, yakni Satsuki Mishima. “Dari beliaulah kami mengetahui semua tata letak barang-barang, furniture di rumah ini,” lanjut Jaka.
Untuk koleksi di museum ini, semua koleksinya sudah merupakan replika, baik meja-kursi ruang tamu, ruang makan, mesin tik yang digunakan Sajuti Melik untuk mengetik teks tulisan tangan Soekarno, serta piano tempat Soekarno dan Mohammad Hatta menandatangani teks proklamasi usai diketik Sajuti Melik.