Akan tetapi dengan mudah sekali pengikut yang begitu banyak itu disapu bersih, kecuali pengikut-pengikut terdekat Pangeran Alit. Akhirnya lurah-lurah itu pun melarikan diri, terkejar, dan dibunuh. Akhirnya tinggallah Pangeran Alit seorang diri.
Selanjutnya semua orang Mataram menyingkir memberi jalan untuk Pangeran Alit, hanya adipati dari Sampang, Demang Melaya, merangkul kakinya dan dengan demikian mencoba menahannya. Tetapi amarah Pangeran Alit semakin menjadi dan ditikamnya leher adipati itu dengan keris si Setan Kober.
Ia menuntut balas dendam atas terbunuhnya junjungan mereka, maka semua orang Sampang, setelah mengangkut jenazahnya, mengamuk. Oleh karena lelah, paha (atau lengan kiri) Pangeran Alit tergores oleh kerisnya sendiri yang termasyhur itu.
Luka ringan ini menyebabkannya tewas di bawah pohon waringin kurung. Jenazahnya diangkut para adipati ke Setinggil, ditangisi oleh ibunya. Pangeran Purbaya menghiburnya, Pangeran Silarong menyampaikan laporan.
Setelah pidato pendek dari Sultan Amangkurat I, yang di dalam hati merasa gembira, maka dilukainya dirinya sendiri di bagian atas lengan kirinya, sedangkan orang-orang Madura yang menjadi pengikut Pangeran Alit dibunuh semua sebagai hukuman. Jenazahnya dimakamkan di Magiri, di sebelah almarhum ayahnya.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.