Sejak saat itu, masyarakat Tionghoa atau Cina bisa dengan bebas merayakan Hari Imlek secara bebas dan terbuka. Tak hanya itu, Gus Dur juga menetapkan Hari Raya Imlek sebagai hari libur fluktuatif dan pada era Presiden Megawati hari tersebut dijadikan hari libur nasional.
Karena dianggap berjasa bagi kalangannya, pada 2004 lalu Perkumpulan Sosial Rasa Dharma di Klenteng Tay Kek Sie, Semaranga, Jawa Tengah, menyematkan gelar ‘Bapak Tionghoa Indonesia’ kepada Gus Dur.
Demikian informasi mengenai alasan kenapa Gus Dur dijuluki bapak Tionghoa Indonesia.
(RIN)
(Rani Hardjanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.