JAKARTA - Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto mengungkap sejumlah tantangan global yang dihadapi dalam pemaparannya di MNC Forum LXX (70th) pada Selasa (30/5/2023) malam. Salah satunya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok sebagaimana yang diramalkan dalam buku Thucydides Trap.
Prabowo menjelaskan, alasan lain Tiongkok terus maju adalah bangkitnya industri robotik. Tahun 2009, China menjadi operational top of leading robotic patetic countries, dengan jumlah 800, kedua Jepang dengan 400, ketiga Korea Selatan, dan keempat AS.
Menurutnya ada banyak indikator-indikator lainnya yang bisa terus dikaji dari Tiongkok, karena kemajuan suatu negara ini dapat menimbulkan ketegangan dengan negara yang merasa tersaingi dan hal inilah yang terus diwaspdai Indonesia terhadap ketegangan AS-China.
"Kita bisa terus mengkaji indikator-indikator apa. Apa tujuan saya? Jadi sejarah menunjukkan kalau ada satu negara berkembangnya begitu cepat, teknologi, ekonomi, science, akan diikuti kekuatan militer," kata Prabowo di iNews Tower, Jakarta.
"Negara lain yang merasa tersaingi kurang berkenan, dan di situ akan terjadi ketegangan, ini yang harus kita waspadai," sambungnya.
Prabowo menjelaskan, dalam hukum Thucydides, seorang ahli sejarah Yunani sekian ratus tahun lalu. Dia menyatakan bahwa "the strong do what they can, the weak suffer what they must" artinya, yang kuat akan berbuat apa yang akan mereka mampu berbuat, dan yang lemah menderita apa yang harus dia menderita.
Kemudian, Ketua Umum Partai Gerindra ini melanjutkan, ahli-ahli sejarah dan ahli-ahli strategi membuat suatu ramalan ke depan dalam suatu buku berjudul 'Thucydides' Trap, Destined for War', dengan pertanyaan utamanya "Can China and United Stated Can Escapes Thucydides' Trap?" atau apakah Amerika-China bisa menghindari Thucydides' Trap atau bisa menghindari perang.