Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sepak Terjang Halim Perdanakusuma, Terjun di Perang Pasifik Hingga Bom Pabrik Nazi di Eropa

Rahman Asmardika , Jurnalis-Senin, 12 Juni 2023 |07:01 WIB
Sepak Terjang Halim Perdanakusuma, Terjun di Perang Pasifik Hingga Bom Pabrik Nazi di Eropa
Foto: Dok. Okezone.
A
A
A

JAKARTA – Abdul Halim Perdanakusuma adalah seorang penerbang legendaris Indonesia yang namanya diabadikan menjadi basis pangkalan udara TNI di Jakarta, Lanud Halim Perdanakusuma. Pria kelahiran Sampang, Madura, 18 November 1922 itu adalah salah satu perwira berdarah Indonesia yang pernah merasakan bertempur di kancah Perang Dunia II.

Semasa muda Halim sempat mengenyam pendidikan di MOSVIA (Middlebare Opleiding School voor Indlansche Ambtenaren), sekolah untuk pribumi calon pegawai kolonial pamong praja Hindia-Belanda yang berada di Magelang, Jawa Tengah.

Namun, tak lama menimba ilmu di MOSVIA, Halim ikut wajib militer Belanda dan mendapat pendidikan sebagai operator torpedo di kapal Koninklijke Marine atau Angkatan Laut Belanda. Dia akhirnya terjun ke kancah Perang Pasifik saat Jepang menyerbu ke Hindia-Belanda dan kapalnya dibombardir di perairan Cilacap.

“Namanya belum ajal, Halim yang terapung-apung di laut lepas, diselamatkan kapal Inggris. Untuk selanjutnya, dibawa ke Australia dan kemudian di India, di mana dia bertemu Panglima Komando Armada Asia Tenggara, Laksamana Lord Louis Mountbatten,” terang penggiat sejarah komunitas Djokjakarta 1945, Agung Surono Karsonoseputro kepada Okezone.

Laksamana Mountbatten suatu ketika terkesan dengan keterampilan seni lukis Halim, dan menawarinya pendidikan militer di Inggris. Jadilah Halim masuk pendidikan RCAF atau Angkatan Udara (AU) Kanada dan kemudian RAF (AU Inggris).

“Selesai pendidikan RCAF, Halim kembali ke induk pasukannya dengan pangkat Letnan Penerbang (Kapten Udara) di RAF dan terlibat dalam puluhan misi. Halim bahkan sempat dianggap juru selamat dan digelari ‘The Black Mascot’, jimat hitam,” jelas Agung.

Sebagai navigator yang dianggap jempolan, Halim terlibat dalam 44 misi serangan udara membombardir Nazi Jerman, baik di wilayah Prancis maupun di wilayah Jerman sendiri dengan pesawat pembom Avro Lancaster dan B-24 Liberator.

“Sasaran utamanya ialah pusat-pusat industri Jerman. Serangan-serangan itu dilakukan pada siang dan malam hari. Pernah terjadi dalam perbangan kembali ke pangkalannya, skuadronnya dicegat pesawat-pesawat Focke-Wulf. Terjadilah duel udara yang seru. Sekutu kehilangan tiga Pesawat B-17 (Flying Fortress) karena tembakan roket (pesawat) Jerman,” tandasnya.

Setelah Perang Dunia II berakhir, Halim pulang ke Indonesia dan direkrut dengan tugas sebagai Perwira Operasi oleh Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang di era revolusi. Kala itu AURI masih baru dibangun Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) pertama, Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

Namun kontribusi dan pengabdian Halim terhadap AURI dan republik yang saat itu masih bayi, tak berlangsung lama.

Dalam sebuah misi pembelian perlengkapan ke Siam (kini Thailand) bersama Iswahyudi, Halim yang ketika itu berpangkat Komodor Muda tewas dalam sebuah kecelakaan.

Pesawat Avro Anson VH-BBY (RI-003) yang ditumpanginya bersama Iswahyudi, jatuh yang diduga akibat cuaca buruk di Pantai Tanjung Hantu, Perak, Malaysia. Jasadnya sempat dikebumikan di Kampung Gunung Mesah, Malaysia.

Tapi kemudian dipulangkan dan dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kala itu, Halim yang secara anumerta diberi pangkat Marsekal Muda, masih berusia 25 tahun dan meninggalkan seorang istri, Koessadalina dan seorang putra, Ian Santoso.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement