Mansyur, keponakan Adi, mengatakan, pamannya langsung dibawa pulang ke kampung halaman begitu keluarga mendengar dia menderita sakit di perantauan.
“Dibawa pulang sekitar tahun 1973. Pada saat pertama, emosinya tidak terkendali. Selain ngoceh sendiri, masih sering mengamuk,“ katanya.
Keluarga tak bisa berbuat banyak dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Langkah yang diambil keluarga akhirnya dengan memasungnya, karena kondisi kejiwaannya membuat Adi berbahaya bagi masyarakat.
Kembali dijelaskan Kusnoto tetangga sekaligus sahabat Adi, bahwa rekannya itu menjadi sosok yang mudah mengamuk tanpa diketahui alasannya. Jika sudah kalap, membuat warga Desa Podorejo, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu seperti kehilangan akal.
“Karena badannya yang tinggi besar dan dikhawatirkan membahayakan orang lain, kerabat dan teman memutuskan untuk dipasung,” ujar Kusnoto.
Karena kondisi itu, Adi akhirnya ditempatkan di “rumah baru”, tak jauh dari rumah yang ditempati keluarganya. Bangunan itu hanya berupa empat tiang kayu, dengan selembar terpal usang yang berfungsi sebagai atap pelindung panas dan hujan.
Pihak keluarga sengaja menempatkan Adi di sana. Sengaja disembunyikan agar orang lain yang bertandang tidak mudah mengetahuinya.
“Tentunya penyakit seperti ini ini sama dengan aib,“ kata Kusnoto.