Memang ada alasan bagi Sunan untuk merasa khawatir. Selama pedagang Evert Michielsen singgah di Banjarmasin pada bulan Mei 1661, muncullah di sana dua orang utusan, yaitu dari Sukadana dan Johor. Kerajaan Sukadan dan Martapura membentuk persekutuan ofensif dan defensif untuk melawan Sultan Amangkurat I yang tidak lagi menerima sembah dari Banjar.
BACA JUGA:
Secara resmi, kedua kerajaan Kalimantan itu pada tahun 1659 menghentikan pemberian sembahnya kepada Sunan. Dapat dimengerti bahwa Sukadana, yang paling lemah, mencari dukungan dari Banjarmasin supaya dapat lebih baik mempertahankan diri dari serangan Mataram.
BACA JUGA:
Pada bulan Juli tahun 1668 masih terdengar desas-desus di Jepara bahwa Sunan akan memerangi raja Kalimantan dan untuk itu semua pelabuhan besar harus mempersiapkan kapal-kapal perang. Selain Kalimantan, ada juga wilayah Jambi yang akan diperanginya, jika mereka tidak segera datang untuk memberi semba
Ketika itu masih hidup anggapan bahwa kedua kerajaan itu masih di bawah kekuasaan Mataram. Tetapi ternyata pula dari berita ini bahwa mereka sudah lama meninggalkan sikap kepatuhannya pada Sunan. Mobilisasi pelabuhan-pelabuhan lautnya hanya merupakan gertak sambal sang raja belaka.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.