MOHAMMAD Hatta, terus menangis ketika Soekarno terbaring sakit akibat penyakit ginjal. Bung Karno dirawat di Wisma Yaso setelah anaknya Rachmawati memohon untuk memindahkannya dari Istana Bogor. Di sebuah ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan.
Hatta duduk di beranda rumahnya sambil menangis, lalu ia bicara kepada istrinya, Rachmi, bahwa ia bermaksud menemui Bung Karno. Tapi Rachmi menolak dan berkata bahwa Soekarno sudah menjadi tahanan politik sehingga tak mungkin bisa ditemui.
"Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku. Ia sahabatku. Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kami, itu lumrah. Tapi aku tak tahan mendengar Sukarno disakiti seperti ini,” kata Hatta seperti dikutip pada buku "Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik".
Lalu keesokan harinya, Hatta diizinkan mengunjungi Soekarno. Sebelumnya ia menulis surat dengan nada tegas kepada Soeharto untuk bertemu Soekarno. Uniknya, surat itu langsung di setujui: Hatta diperbolehkan menjenguk Bung Karno.
Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit. la menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno membuka mata dan menyadari kehadiran Hatta sambil menyapa lemah. Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih.
Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sambil sedikit tersenyum menghibur ia hanya bisa menjawab dengan menanyakan kondisi Soekarno.
Hatta menyapanya dengan “No”, sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Ia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.
Hoe gaat het met jou? (Bagaimana keadaanmu?)” ucap Soekarno.
Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno. Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Air matanya juga tumpah. Ia ikut menangis.
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Ia juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.
"No," hanya itu yang bisa terucap dari mulut Hatta. Ia tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah kepada penguasa baru yang sampai hati menyiksa Bung Karno. Walau prinsip politik di antara dirinya dan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persahabatannya yang demikian erat dan tulus.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.