Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Kiai Imam Sarang Kumandangkan Azan dan Siapkan Bambu Sebelum Pemberontakan PKI

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis-Kamis, 22 Juni 2023 |05:00 WIB
Kisah Kiai Imam Sarang Kumandangkan Azan dan Siapkan Bambu Sebelum Pemberontakan PKI
Ilustrasi (Foto: Istimewa/Okezone)
A
A
A

Tepat 30 September, PKI bergerilya menyerang wilayah Sarang. Akan tetapi, anehnya mereka tidak mampu menembus area Pesantren Sarang, sehingga penyerangan hanya terjadi di desa-desa terpencil selatan pesantren.

Karomah Kiai Imam Khalil yang membuat celupan penjalin sakti mandraguna, Allah SWT menyelamatkan masyarakat Sarang dari kezoliman PKI. Mereka dapat dengan mudah dilumpuhkan hanya dengan satu sabetan rotan saja.

Kabar celup penjalin yang memiliki kesaktian luar biasa ini kian hari kian santer tersebar dari desa ke desa, bahkan sampai ke kota-kota besar. Sebab minimnya senjata atau alat pertahanan yang dimiliki masyarakat untuk menumpas pemberontakan PKI yang tersebar di berbagai penjuru membuat mereka kebingungan.

Adanya kabar celup penjalin di Sarang oleh seorang kiai kharismatik bagaikan angin segar. Kala itu, banyak masyarakat dari berbagai penjuru datang bersama-sama menuju Pesantren Sarang guna memiliki rotan sakti yang bisa mereka jadikan alat pertahanan diri dari serangan PKI.

Mereka datang dari kota-kota besar seperti dari Magelang, Temanggung, Semarang, Kendal, Pekalongan, Cirebon, Yogyakarta, Kudus, Pati, Jepara Purwodadi, Demak, Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Kediri, Lasem, Rembang dan kota-kota lain di sekitar Jawa Tengah- Jawa Timur.

Kedatangan mereka membuat jalan menuju Pesantren Sarang dipenuhi kendaraan. Dari mulai motor, mobil, bus, bahkan truk terparkir berjejer-jejer di sepanjang jalan.

Keadaan yang demikian dapat mendongkrak perekonomian masyarakat Sarang. Banyak dari mereka memanfaatkan momen tersebut dengan berjualan rotan di depan pondok lor. Sebab, orang-orang yang datang ke Sarang belum memiliki rotan sama sekali, mereka datang dengan tangan kosong, sehingga hal itu memaksa mereka untuk membeli rotan dari masyarakat Sarang.

Sebelum pencelupan rotan itu dilaksanakan, biasanya ada sambutan perwakilan pondok yang disampaikan oleh salah satu santri senior, di mana di antaranya adalah Kang Ahmadi.

Ia memberi sambutan terlalu panjang kala itu sehingga membuat orang-orang yang tengah memadati area pondok menunggu lama. Saat Kang Ahmadi Sarang Meduro masih menyampaikan sambutannya, Kiai Imam Khalil tiba-tiba datang lalu memberi teguran padanya, “Ojok dowo-dowo, ojok dowo-dowo, mundaki pedot” (Jangan panjang-panjang (sambutannya), jangan panjang-panjang nanti putus).

Dalam tegurannya, Kiai Imam Khalil memberikan nasehat bahwa jangan sampai membuat orang-orang yang datang berkumpul di area pondok menunggu lama, sebab hal itu malah menambah masyaqqoh (kepayahan) di atas masyaqqoh yang lain, lebih-lebih mereka yang datang dari jauh.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement