JAKARTA – Kapten Andi Abdoel Azis adalah seorang veteran KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) yang dikenal melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) di Makassar pada 5 April 1950.
Akibat pemberontakan itu, Andi Azis ditangkap ketika akan menghadap ke Jakarta untuk memberikan laporan pertanggungjawabannya. Pria kelahiran Barru, Sulawesi Selatan pada 1924 itu kemudian dijebloskan ke penjara, walau akhirnya mendapat potongan hanya menjalani hukuman delapan tahun dan bebas bersyarat.
Dalam pengakuannya di Pengadilan Militer di Yogyakarta, Andi Azis mengatakan bahwa gerakannya lahir akibat kebutaan politik dan jadi korban adu domba. Mungkin karena itulah dia tetap merasa menjadi korban ketidakadilan dan sakit hati meski mendapat keringanan hukuman.
Setelah dibebaskan Andi Azis sempat menjadi pilihan Presiden Soekarno untuk menjadi komandan pasukan khusus istimewa Tjakrabirawa, yang saat itu akan didirikan. Soekarno melihat latar belakang yang cukup gemilang untuk jadi salah satu perwira terbaik.
Namun, Andi Azis menolak tawaran dari Presiden Soekarno lantaran rasa sakit hatinya.
Berkiprah di KNIL selama masa perang kemerdekaan Indonesia, Andi Azis adalah satu dari sedikit tentara berdarah Indonesia yang pernah merasakan pengalaman Perang Dunia II. Selama perang dia turut bertempur dengan tentara Kerajaan Belanda di Front Eropa.
Dikutip dari buku “Untung, Cakrabirawa dan G30S” karya Petrik Matanasi, Andi Azis terbilang satu-satunya orang Indonesia yang mendapat latihan pasukan komando dari Inggris.
Pada awal 1930-an Andi Azis dibawa pensiunan asisten residen berkebangsaan Belanda ke negeri kincir angin dan memasuki Leger School hingga selesai pada 1938.
Saat pecah Perang Dunia II Andi Azis masuk Koninklijke Leger (AD Belanda) yang ikut melawan pendudukan Jerman Nazi bersama sejumlah organisasi gerakan bawah tanah Belanda. Dia juga kemudian mampu lolos melarikan diri dari Belanda ke Inggris, hingga mendapat pelatihan komando.
Pasca-PD II, Andi Azis berniat pulang untuk bertemu keluarganya dengan cara, ikut kesatuan KNIL dengan diberi pangkat Letnan Dua yang akan diberangkatkan ke Indonesia dan mendarat di Jakarta, 19 Januari 1946.
Dari sejarah karier singkat Andi Azis itulah, Soekarno berniat meminangnya jadi komandan Tjakrabirawa. Medio 1963, Brigjen Sabur atas utusan Soekarno, mendatangi Andi Azis dan memintanya menghadap Soekarno.
“Ia (Andi Azis) kadung kecewa karena diperlakukan layaknya seorang kriminal dan tidak layaknya prajurit seperti dalam tradisi Bugis, di mana lawan pun sama dihargainya layaknya teman,” tulis Petrik Matanasi dalam buku ‘Untung, Cakrabirawa dan G30S’.
Mungkin penolakan Andi Azis itu merupakan sebuah berkah bagi sang putra Bugis. Pasalnya, namanya tidak tersangkut dengan Resimen Tjakrabirawa yang dianggap sebagai komponen penting dan lekat dengan pemberontakan G30SPKI pada 1965.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.