SEBANYAK enam kandidat bersaing memperebutkan tahta Mataram usai mangkatnya Sultan Amangkurat IV atau Pakubuwono I pada 22 Februari 1719. Alhasil pemberontakan di antara keenamnya tak kuasa dibendung.
Pangeran Purboyo dan Pangeran Blitar, yang merupakan kedua saudara laki-laki Sultan Amangkurat IV dari ibu yang sama yakni Ratu Pakubuwono, memiliki pendukung di Madiun dan Ponorogo.
Tumenggung Surobroto yang menjadi Bupati Ponorogo, dengan 12.000 pasukan telah membuat negosiasi untuk bergabung dengan pihak VOC-Kartasura pada Oktober 1719, tetapi pada awal 1720 telah bergabung sekali lagi dengan pangeran pemberontak.

Jadi Buronan Belanda, Untung Suropati Disembunyikan Raja Mataram
Pemerintahan Sunan Prabu atau nama lain Pakubuwono I berakhir pada 7 April 1726 dengan kematiannya yang mendadak. Mahkota raja kemudian jatuh kepada anaknya yang masih remaja, atau berumur 16 tahun, bernama Pakubuwono II.
Selama menjadi raja, Pakubuwono II merupakan raja yang malang. Dia diusir dari keratonnya selama Pemberontakan Tionghoa atau disebut dengan Geger Pacinan antara 1740-43, pada 30 Juni 1742 dan harus melarikan diri bersama Residen Kartasura yang menjabat antara 1741 - 1748 Johan Andries Baron van Hohendorff, Gubernur Pantai Timur Laut Jawa 1748-54, dan Letnan Ferdinand Carel Hoogwits, sekitar 1717-65 ke Magetan dan Ponorogo.
BACA JUGA:
Sementara suatu ketika rombongan Raja Mataram menyelamatkan diri ke Magetan pada 30 Juni 1742. Rombongan ini kemudian bermalam pada 30 Juni hingga 1 Juli, di sebuah daerah yang bernama Trajikuning, yang lokasinya tidak dapat dilacak saat ini.
Sunan menggunakan pelana kuda Hohendorff sebagai bantal tidurnya selama bermalam di sana. Pada Minggu dini hari pukul 01.30, 1 Juli, rombongan meninggalkan peristirahatan dan berjalan kaki melalui hutan lebat dan gunung-gunung yang susah dilewati.
Rombongan baru sampai ke sebuah desa bernama Guger, yang sama-sama tidak ketahui letaknya kini, pada pukul 6 sore. Citrodiwiryo yang saat itu berlaku sebagai penguasa Magetan dengan seluruh rakyatnya menerima dan membantu Raja Mataram dalam pengasingannya ini.
Namun demikian, Guger tidak masuk dalam kekuasaannya, sebab terletak di wilayah Madiun, bukan Maospati/Magetan, sehingga pasukan harus melanjutkan perjalanan kembali selama 5,5 jam. Perjalanan ini membawa pasukan ke sebuah wilayah desa bernama Pancot, yang terkenal di wilayah Mangkunegaran.