JAKARTA - Kerajaan Majapahit di masa pemerintahan Jayanagara dipenuhi dengan berbagai pemberontakan. Pemberontakan ini dilakukan oleh pejabat internal istana hingga beberapa wilayah kekuasaan di bawahnya. Beberapa pemberontakan ada yang berhasil ditumpas langsung oleh Jayanagara, tetapi ada yang memerlukan bantuan orang lain.
Dari sekian pemberontakan yang terjadi semasa Jayanagara berkuasa. Ada beberapa pemberontakan mungkin yang masih asing terdengar. Dua di antaranya masih terkait dengan pemberontakan yang dilakukan Mahapatih Nambi, mahapatih semasa Raden Wijaya hingga awal Jayanagara bertahta, yakni Pemberontakan Pamandana dan Mahisa Pawagal, serta satu lagi pemberontakan Ra Semi.
Berdasarkan Kidung Sorandaka, Pamandana dan Mahisa Pawagal melakukan pemberontakan terhadap Jayanagara pada 1316. Pemberontakan dari Pamandana dan Mahisa Pawagal timbul karena Jayanagara yang mendapat hasutan Halayuda, menuding bahwa kedua pejabat Majapahit tersebut telah membantu Nambi dalam melakukan pemberontakan terhadap kekuasaannya.
Sebagaimana kisah dari "Hitam Putih Gajah Mada", sesudah Nambi berhasil ditangkap dan dibunuh oleh Jabung Tarewes, Lembu Peteng, dan Ikal-Ikalan Bang, Pamandana dan Mahisa Pawagal yang selamat dari pertempuran di Desa Rabut Buhayabang tersebut, terus melakukan pemberontakan dengan cara bergerilya.
Keduanya merupakan simpatisan dan pernah menjadi bagian dari internal istana Kerajaan Majapahit di masa Raden Wijaya. Keduanya merupakan kubu atau pendukung Mahapatih Nambi, yang difitnah sehingga memunculkan pemberontakan Nambi sebelumnya. Tetapi pemberontakan kedua tokoh ini berhasil ditumpas oleh Jayanagara sendiri.
Pemberontakan kedua yakni dilakukan oleh Ra Semi. Ra Semi merupakan anggota dari Dharmaputra atau pejabat internal yang terdiri dari tujuh orang yang dibentuk sejak era Raden Wijaya. Selain Ra Semi, ada enam pejabat lainya yakni Ra Kuti, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa. Nama pertama juga berupaya melakukan pemberontakan dan bahkan sempat membuat sang raja mengungsi.
Tetapi kembali muncullah pemberontakan dari anggota pejabat istana yang diagungkan itu. Kidung Sorandaka menyebutkan bahwa sewaktu Pranaraja atau ayah Nambi meninggal dunia di Lumajang, Ra Semi melayat bersama rombongan dari Majapahit.
Kemudian terjadi peristiwa di mana Nambi difitnah oleh Hayalayuda sebagai pemberontak terhadap Majapahit. Jayanagara mengerahkan pasukan untuk menghukum Nambi. Pada saat pasukan Majapahit menyerang, Ra Semi masih berada di Lumajang bersama anggota rombongan lainnya. Mau tidak mau, Ra Semi bergabung untuk membela Nambi. Dikisahkan, Nambi kemudian terbunuh beserta seluruh pendukungnya.
Ra semi yang berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan Majapahit kemudian bergabung dengan Ra Kuti. Serat Pararaton menyebutkan bahwa Ra Semi melakukan pemberontakan terhadap Majapahit (1318). Hal ini menunjukkan bahwa Ra Semi dapat meloloskan diri dari maut dan menjadi pelarian sejak tahun 1316.
Sesudah itu, Ra Semi melakukan perlawanan terhadap Jayanagara dibantu Halayuda, yang diangkat sebagai Rakryan Mahapatih untuk menggantikan Nambi. Pemberontakan yang dilakukan Ra Semi berpusat di Lasem dan Rembang. Namun pemberontakan Ra Semi dapat dipadamkan oleh Jayanagara.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.