Apalagi kegiatan kongres memang diintai puluhan intelijen yang bertugas mencegah adanya pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia.
"Dan karena ada intelijen ini, ketua kongresnya meminta WR Supratman memperdengarkan saja lagu 'Indonesia', tidak dengan liriknya, setelah melihat teksnya. Ia menilai ini (jika lirik lagu 'Indonesia' dinyanyikan) bisa bahaya banget. Nanti pemuda bisa gagal bersatu. Nah, ini jangan sampai terjadi, karena kerugiannya bisa banyak banget," kata Bakti Ari, staf informasi Museum Sumpah Pemuda, beberapa waktu lalu kepada tim redaksi Okezone.
Lokasi kongres yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda menjadi tempat untuk mengenang WR Supratman alat musik biola kesayangannya dan sejumlah lirik gubahan lagu 'Indonesia Raya'. Bahkan, ada ruang khusus untuk mengenangnya.
"Kemudian ini yang salah satu sering ditanyakan masyarakat (biola WR Supratman). Keadaan biola masih terawat bagus, masih biasa diaminkan," kata Bakti Ari.