Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pemicu Pemberontakan Kahar Muzakkar hingga Ditumpas Pemerintah

Erha Aprili Ramadhoni , Jurnalis-Minggu, 23 Juli 2023 |05:13 WIB
Pemicu Pemberontakan Kahar Muzakkar hingga Ditumpas Pemerintah
Kahar Muzakkar. (Ist)
A
A
A

KAHAR Muzakkar menuntut agar ingin pasukannya yang tergabung dalam Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dileburkan ke Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI, kini TNI).

Pada 30 April 1950, Kahar mengirim surat pada pemerintah pusat dan pimpinan APRI, agar segenap barisan KGSS dimasukkan ke APRI dengan mengambil nama “Brigade Hasanuddin”. Ini sebagai respons pemerintah yang ingin membubarkan KGSS usai revolusi kemerdekaan.

Namun, tuntutan itu ditolak Presiden Soekarno. Alasannya, mayoritas anggota KGSS tak memenuhi syarat sebagai tentara yang profesional. Hanya segelintir yang lolos dalam saringan perekrutan APRI.

Pemerintah hanya bersedia memasukkan eks-KGSS ke Korps Cadangan Militer. Hal itu tak sesuai harapan Kahar. Dikutip dari buku “100 Tokoh yang Mengubah Indonesia”, di situlah kekecewaan Kahar memuncak.

Beberapa bulan kemudian, pemerintah pusat coba persuasif dengan memberinya pangkat “Overste” atau Letnan Kolonel, demi meredam kekecewaan Kahar. Namun, ketika akan dilantik pada 17 Agustus 1951, Kahar justru kabur dengan membawa serta sejumlah persenjataan dan jadi titik nol pemberontakannya.

Sebelumnya, Kahar sudah pernah beberapa kali dikecewakan pemerintah pusat. Salah satu persoalan sebelum tuntutannya pada 30 April 1950 itu adalah terkait pembentukan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), Oktober 1945.

Namun, KRIS justru lebih “dikuasai” golongan Mihanasa-Manado dan membuat perannya sebagai sekretaris terkucilkan, sampai memutuskan keluar dari KRIS.

Terlepas dari hal itu setelah tuntutannya ditolak Soekarno, Kahar membentuk brigadenya sendiri. Pada 7 Februari 1953, Kahar memutuskan bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.

Gerakan pasukannya yang berkekuatan sekitar 15 ribu pengikut, mengatasnamakan agama dan sepak terjangnya lebih kepada melancarkan teror kaum aristokrat dan para bangsawan yang bertentangan dengannya.

Pada tahun itu, muncul pemberontakan lain di Sulawesi, Perdjuangan Rakjat Semesta (Permesta). Di sisi lain, pemberontakan Kahar justru juga mulai melemah akibat ‘digembosi’ dari dalam sejak 1957.

Pergerakan pasukan Kahar mulai tak mendapat aliran suplai dari Andi Selle, pensiunan APRI. Seperti disadur dari buku ‘Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar”, Andi Selle dipengaruhi Pangdam XIV/Hasanuddin, Kolonel Muhammad Jusuf, untuk tak lagi ikut campur dalam penyaluran suplai pasukan Kahar.

Jusuf juga berkehendak berunding dengan Kahar untuk menyelesaikan konflik. Tapi di tengah jalan, pemberontak simpatisan Andi Selle malah menembaki mobil Jusuf.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement