Mustaqim mengatakan bahwa Sjahrir memiliki pandangannya sendiri terkait janji Jepang yang akan memberi kemerdekaan kepada Indonesia. Dia menilai bahwa jika Indonesia menyatakan kemerdekaan melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), yang merupakan lembaga bentukkan Jepang, maka Sekutu akan menilai bahwa kemerdekaan Indonesia adalah pemberian Jepang.
Sjahrir ingin agar Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia atas nama rakyat Indonesia.
"PPKI sebagai badan bentukan Jepang yang bertugas menyiapkan kemerdekaan, tidak menunjukkan aktivitasnya akan berhenti bekerja. Sikap Soekarno dan Mohammad Hatta tersebut mengecewakan para pemuda yang sepakat dengan gagasan Sjahrir," tuturnya.

Setelah permintaannya untuk memproklamasikan kemerdekaan ditolak Soekarno, Sjahrir menyiapkan gerakannya sendiri untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.
"Pada 15 Agustus 1945, setelah jam 5 sore, Sjahrir segera memerintahkan kepada para pemuda agar mempercepat persiapan demonstrasi. Mahasiswa dan pemuda yang bekerja di kantor berita Domei (kantor berita Jepang) secepatnya melaksanakan instruksi tersebut. Namun, Sjahrir memahami gelagat Bung Karno yang tidak sepenuh hati menyiapkan Proklamasi," kata Mustaqim.