Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Heroik Pangeran Diponegoro Menolak Menyerah Meski Terdesak Pasukan Belanda

Avirista Midaada , Jurnalis-Kamis, 03 Agustus 2023 |05:22 WIB
Kisah Heroik Pangeran Diponegoro Menolak Menyerah Meski Terdesak Pasukan Belanda
Pangeran Diponegoro. (Foto: Istimewa)
A
A
A

PANGERAN Diponegoro dibuat kerepotan ketika melawan pasukan Belanda dalam upayanya membebaskan Indonesia dari penjajahan. Meninggalnya beberapa pasukan andalannya dan strategi pembangunan benteng-benteng darurat di lapangan membuat kekuatan Pangeran Diponegoro dan sisa pasukannya kian terdesak.

Apalagi Belanda melipatgandakan kekuatan pasukan gerak cepat dan telah mengurung Diponegoro di lembah sempit antara Kali Progo dan Kali Bogowonto. Pada posisi terdesak ini Sentot membuka perundingan dengan Belanda untuk menyerah. 

Apalagi ibu Pangeran Diponegoro Raden Ayu Mangkorowati, dan putri Pangeran, Raden Ayu Gusti, sebagaimana dikisahkan pada "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 - 1855), semua sudah ditahan Belanda pada akhir bulan. Sang pangeran ini nyaris tertangkap pada 11 November, tetapi berhasil lolos.

 BACA JUGA:

Tercatat selama tiga bulan Diponegoro berjuang nyaris seorang diri. Penderitaan ditambah oleh serangan malaria tropika yang parah saat ia bersembunyi di hutan-hutan Bagelen barat. 

Tetapi dengan kekuatan militer Belanda yang memang sedang hebat-hebatnya, dengan sayembara kepala Pangeran dibanderol 20 ribu gulden atau bernilai 2 juta dolar AS sekarang, dan empat pasukan gerak cepat yang terus memburu, statusnya sebagai pelarian tinggallah menghitung hari. Cepat atau lambat Pangeran akan dipaksa oleh keadaan untuk merundingkan penyerahan dirinya.

BACA JUGA:

7 Museum Terbaik Jawa Tengah, Nomor 5 Saksi Bisu Penangkapan Pangeran Diponegoro 

Kekalahan peperangan di Siluk pada 17 September 1829 membuat pasukan Pangeran Diponegoro terpaksa mundur menyeberangi Kali Progo. Hal ini ditambah dengan tewasnya Pangeran Ngabehi sang paman sekaligus panglima perang pasukan kepercayaan Pangeran Diponegoro.

Bahkan mayoritas komandan tentaranya konon telah menyerah karena frustasi dan kelelahan. Tetapi tekad perjuangan Pangeran Diponegoro masih tinggi. Dengan pengawalan 50 prajurit, sang pangeran terus memasuki wilayah Bagelen Timur. 

Basah Hasan Munadi, seorang Arab-Jawa pemimpin Barjumungah, resimen agamis kawal pribadi Diponegoro, menyarankan agar Pangeran Diponegoro pergi ke daerah pegunungan Remo, antara Bagelen dan Banyumas, kabupaten asal keluarga Danurejan, di mana komandan prajuritnya yang masih muda belia, Basah Ngabdulmahmud Gondokusumo, masih memegang kendali di situ.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement