Kekaguman tersebut juga diperlihatkan oleh komandan pasukan Belanda kepada Slamet Riyadi. Hal tersebut tercatat dalam sejarah perundingan yang diadakan antara Slamet Riyadi dan komandan pasukan Belanda di Solo, Kolonel van Ohl, tanggal 11 Agustus 1949.
Komandan Belanda tersebut kagum setelah mengetahui bahwa lawan yang dihadapinya selama ini adalah seorang anak muda yang sebaya dengan anaknya. Perundingan tersebut akhirnya berbuah kesepakatan bahwa daerah-daerah yang dikuasai Belanda akan diserahkan kepada TNI secara bertahap.
Dari sejarah yang diukir Slamet Riyadi dan pejuang Indonesia lainnya, Prabowo Subianto menekankan bahwa bukan hal yang tidak mungkin bagi siapapun untuk menjadi seorang pemimpin di usia muda. Beliau pun mengakui bahwa Kota Solo banyak melahirkan pemimpin hebat.
“Jadi pemimpin kalau usia muda belum tentu tidak bisa. Solo ini juga banyak melahirkan pemimpin-pemimpin hebat,” tutup Prabowo.