Sejak usia belasan tahun LB Moerdani sudah aktif mengikuti pertempuran melawan kolonial Belanda. Saat itu, ia bergabung dengan Tentara Pelajar. Pria yang akrab dengan sapaan Beni ini juga ikut andil pada peristiwa Serangan Umum yang terjadi pada 1 Maret di Kota Solo.
Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, Beni mendaftar ke Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD) dan mulai pelatihan pada Januari 1951. Dia juga turut ambil bagian dalam Sekolah Pelatihan Infanteri (SPI).
Pendidikannya di P3AD dan SPI selesai pada tahun 1952. Kemudian, Beni yang berpangkat Letnan Dua ditempatkan di Kodam Siliwangi untuk menjaga keamanan Jawa Barat.
Ahmad Yani memerintahkan LB Moerdani untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Infanteri Angkatan Darat Amerika Serikat di Fort Benning. Setelah lulus pada tahun 1961, ia ditugaskan untuk mengambil alih Irian Barat.
Perannya dalam mengambil alih Irian Barat membuat Presiden Soekarno menariknya sebagai ajudan. Sayangnya ia menolak tawaran tersebut. Karena penolakan itu, LB Moerdani dipindahkan ke Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad).
Pada masa Orde Baru, Presiden Soeharto memberinya jabatan sebagai Asisten Intelijen Pertahanan dan Keamanan. Salah satu tugasnya adalah merencanakan invasi balik Operasi Seroja Timor Timur pada 1975 lalu.