LONDON – Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengonfirmasi pengunduran dirinya pada Kamis, (31/8/2023) melalui surat kepada Perdana Menteri Rishi Sunak. Wallace menyampaikan dukungan berkelanjutannya kepada pemerintah sambil memperingatkan Sunak untuk tidak melihat pertahanan sebagai "pembelanjaan diskresi".
Wallace, yang membantu memimpin respons Inggris terhadap invasi Rusia ke Ukraina, bulan lalu mengatakan ia ingin mengundurkan diri setelah empat tahun menjabat dan akan berhenti sebagai anggota parlemen pada pemilu nasional berikutnya untuk mengejar peluang baru.
Dilihat sebagai pendukung kuat peningkatan belanja angkatan bersenjata, Wallace dilihat sebagai salah satu calon penerus Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg, namun kontrak mantan perdana menteri Norwegia itu diperpanjang satu tahun lagi.
Kepergian Wallace yang populer membuat sedih beberapa pihak di Partai Konservatif yang berkuasa, namun langkah tersebut sepertinya tidak akan mengubah dukungan London terhadap Ukraina.
Dalam surat pengunduran diri resminya, Wallace memperbarui seruannya agar pemerintah tidak beralih ke sektor pertahanan untuk melakukan pemotongan belanja.
“Kementerian Pertahanan kembali berada pada jalur untuk kembali menjadi kelas dunia dengan masyarakat kelas dunia,” tulisnya sebagaimana dilansir Reuters.
“Saya tahu Anda setuju dengan saya bahwa kita tidak boleh kembali ke masa di mana pertahanan dipandang sebagai pembelanjaan yang bersifat diskresi oleh pemerintah dan penghematan dicapai dengan cara melakukan hollowing out.”
Dia memposting di X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter: "Itu saja semuanya. Merupakan suatu kehormatan untuk melayani negara yang besar ini."
Sunak memuji Wallace atas pekerjaannya, dengan mengatakan dalam sebuah surat sebagai tanggapannya: "Anda telah mengabdi pada negara kami di tiga jabatan yang paling menuntut di pemerintahan: menteri pertahanan, menteri keamanan dan menteri Irlandia Utara."
(Rahman Asmardika)