FLORIDA - Seorang nenek asal Florida, Amerika Serikat (AS) yang telah tinggal di rumah pohon di rumahnya selama hampir 20 tahun harus menghancurkan bangunan besar tersebut karena denda yang akan memaksanya meninggalkan properti tersebut.
Keluhan yang terjadi pada 2015 tentang rumah Shawnee Chasser di Northwest Miami-Dade melibatkan pihak Penegakan Kode setempat. Pemilik rumah diminta untuk merobohkan rumah pohon atau memperbaikinya sesuai aturan.
WSVN melaporkan akibat ketidakpedulian Shawnee terhadap kedua permintaan tersebut, dia dikenakan denda sebesar USD40.000 (Rp613 juta).
“Itu selalu ada di pikiran saya. Separuh waktu saya tidak tidur,” katanya.
“Saya tidak perlu kurang tidur karena itu. Saya bisa kurang tidur karena hal lain,” lanjutnya.
Shawnee pun mengakhiri perjuangannya selama tujuh tahun dengan daerah tersebut. Dia berencana akan merobohkan bekas kamar tidurnya, dapurnya, ruang tamunya, dan kamar tidurnya saat ini – kamar yang baru dia bangun setahun yang lalu.
“Kakiku sangat lemah, jadi aku membangun pondok Tiki dengan berpikir aku akan berada di dalamnya selamanya, dan jika kamu melihatnya, itu adalah kamar tidur terindah di seluruh dunia,” ujarnya.
Shawnee, seorang mantan aktivis, berencana memulai pembongkaran rumahnya pada 18 September mendatang. Dia pada akhirnya akan membangun rumah pohon yang sesuai dengan standar daerah tersebut. “Saya bukan seorang pejuang, Anda tahu? Saya berperang melawan Perang Vietnam. Saya sudah selesai berjuang, dan saya hanya ingin perdamaian,” ungkapnya.
Pembangunan rumah pohon merupakan salah satu hasil kerja keras. Bagi dirinya. CBS News mengatakan Shawnee pertama kali membeli properti itu hampir 20 tahun yang lalu untuk putranya. Setelah putranya meninggal, Shawnee pindah ke rumah pohon dan menjadikannya rumah permanennya.
Ini telah menjadi tempat perlindungan bagi perempuan, anak-anaknya, dan bahkan cucu-cucunya.
“Saat hujan, kami pergi berdansa di tengah hujan,” ujarnya.
Shawnee bersikeras untuk terus menemukan cara untuk terus berada di luar bersama alam. “Saya selalu tinggal di luar ruangan. Bagi saya, itulah satu-satunya cara untuk hidup,” katanya.
“Saya harus mendengar hujan dan angin di malam hari. Jika tidak, aku jadi gila dan menderita claustrophobia,” terangnya.
GoFundMe puj telah dibuat untuk dia. 'Shawnee selalu hidup di luar kotak, secara harfiah dan kiasan,' tulis halaman itu.
“Dia tidak bisa tinggal di dalam rumah dan perlu hidup dekat dengan bumi dan sejalan dengan keyakinannya. Seseorang tidak boleh dihukum karena cara hidup seperti ini, itu harus dirayakan,” bunyi pernyataan itu.
(Susi Susanti)