Arzeti pun menganggap ramainya isu Pandemi 2.0 juga merupakan teguran bagi Pemerintah karena kurangnya sosialisasi dan edukasi tentang perkembangan status virus Covid-19 dan polusi udara. Ia pun menyoroti soal informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang menyebut tren terkait Covid-19 kurang menggemberikan, khususnya di belahan bumi bagian utara.
Dalam rilisnya, WHO memperkirakan masih ada ratusan ribu orang di seluruh dunia yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit akibat Covid-19. Hal ini karana banyak negara telah berhenti melaporkan data terkait virus Corona.
BACA JUGA:
"Kita harus menghadapi masa depan dengan kepala dingin, solidaritas, dan tanggung jawab bersama. Jangan pernah berhenti memberikan edukasi terbaru akan perkembangan virus Covid-19. Saat ini kita masih berusaha bangkit dan mudah digoda isu hoaks," sebut Arzeti.
Terkait isu peraturan lockdown pada isu Pandemi 2.0, Arzeti menilai hal tersebut adalah tindakan ekstrem yang hanya akan diterapkan jika tidak ada pilihan lain yang tersedia.
BACA JUGA:
"Apalagi lockdown, ini hal yang sangat dan harus dipertimbangkan dengan matang karena dampaknya luas. Jadi kami di DPR mengimbau kepada masyarakat untuk tidak termakan isu itu. Tidak perlu juga reaktif dengan meningkatkan daya beli kebutuhan pokok, karena bisa berdampak pada stok di pasaran," ujarnya.
Arzeti mengatakan, Komisi IX DPR RI yang salah satu bidangnya terkait dengan urusan Kesehatan akan terus mengawal terkait isu Pandemi 2.0. DPR pun dipastikan terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengenai persoalan polusi udara yang masih cukup mengkhawatirkan.
“Kita berharap Pemerintah bisa segera menyelesaikan permasalahan polusi yang menyebabkan kualitas udara di Tanah Air memburuk, terutama di Ibukota dan sekitarnya. Karena persoalan polusi udara ini menjadi salah satu sebab munculnya isu lockdown,” tutup Arzeti.
Sebelumnya, ramai di media sosial tentang unggahan seorang dokter bernama dr. Tifauzia Tyassuma. Sang dokter menuliskan bahwa Pandemi 2.0 yang dijadwalkan tahun 2025 ternyata dimajukan menjadi 2023. Dokter tersebut juga mengklaim dalam sebulan atau dua bulan Indonesia juga akan kembali mengalami lockdown. Termasuk juga dengan adanya aturan work from home (WFH), dan penggunaan masker.
Hal tersebut buntut polusi udara yang semakin parah dan varian terbaru Covid-19, yakni Eris sudah masuk ke Indonesia. Cuitan dr.Tifa yang merupakan ahli epidemiologi molekuler dan praktisi makanan kesehatan itu soal pandemi 2.0 sontak ramai menjadi perbincangan dan menimbulkan kekhawatiran.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.