Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Menelusuri Jejak DN Aidit, Dalang Pembantaian Jenderal TNI AD saat G30SPKI

Shofiyah Afni , Jurnalis-Selasa, 26 September 2023 |13:15 WIB
Menelusuri Jejak DN Aidit, Dalang Pembantaian Jenderal TNI AD saat G30SPKI
DN Aidit Dalang G30SPKI/Tangkapan layar media sosial
A
A
A

JAKARTA – Sosok Dipa Nusantara (DN) Aidit Ketua Central Comitte Partai Komunis Indonesia (CC-PKI) yang dihukum mati di era Soeharto menarik untuk diulas.

DN Aidit adalah salah satu dalang dari tragedi pembantaian para jenderal dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30SPKI.

Pria kelahiran Belitung pada 30 Juli 1923 memiliki nama lahir Achmad Aidit, ia dipanggil "Amat" oleh teman-temannya dan mendapatkan pendidikan Belanda saat kecil.

Ayahnya bernama Abdullah Aidit, merupakan pendiri "Nurus Islam" yaitu perkumpulan keagamaan yang berorientasi pada Muhammadiyah. Selain itu ayah D.N Aidit juga aktif dalam perjuangan melawan Belanda.

Saat beranjak dewasa ia memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit, hal tersebut pun disetujui oleh ayahnya.

Saat dewasa ia pergi ke Jakarta untuk sekolah dagang serta mendirikan perpustakaan. Dimulai saat ia mempelajari teori politik Marxis dari Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (PKI), sejak saat itu ia berkenalan dengan tokoh-tokoh yang akan memainkan peran politik di Indonesia.

Awalnya D.N Aidit dipercaya untuk menjadi Sekjen PKI oleh Bung Karno karena ia memahami Marhaenisme. Kemudian dibawah pimpinannya PKI memiliki 3 juta anggota pada tahun 1960 an, menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah RRC dan Uni Soviet.

Namun, pencapaian tersebut disalahgunakan oleh PKI untuk mempengaruhi Soekarno dalam kebijakannya. PKI meminta untuk menutup Partai Masyumi, serta menuduh para jenderal TNI AD melakukan kudeta dan mendirikan organisasi Dewan Jenderal.

Hingga akhirnya peristiwa bersejarah sampai saat ini yaitu pada 30 September 1965 menyebabkan tewasnya sejumlah perwira TNI AD dan polisi, kemudian mayatnya dibuang ke sumur Lubang Buaya.

Radio Republik Indonesia (RRI) direbut oleh PKI untuk menyebarkan propaganda, namun akhirnya pemberontakan berhasil diredam saat dibawah perintah Mayjen Soeharto.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement