Selanjutnya alasan rubel terus menurun adalah karena sanksi terhadap Rusia mulai berdampak. Meskipun sanksi tidak membuat ekonomi Rusia jatuh parah, namun ekspor dan nilai Rubel terus mengalami penurunan akibat pembatasan impor minyak Rusia oleh sekutu Barat dan pengaturan harga ekspor minyak ke negara-negara non-Barat. Sanksi ini membuat perusahaan asuransi dan pengirim barang, yang sebagian besar beroperasi di wilayah Barat, tidak dapat menangani minyak Rusia dengan harga di atas $60 per barel.
Pembatasan dan boikot ini telah memaksa Rusia untuk menjual minyak dengan diskon dan mengambil tindakan mahal, seperti mendapatkan kapal tanker yang beroperasi di luar jangkauan sanksi.
Meskipun nilai mata uang Rubel mengalami penurunan, Chris Weafer, CEO Macro-Advisory Ltd., menyatakan bahwa Rusia tidak sedang menghadapi krisis ekonomi. "Penurunan nilai Rubel sebagian besar disebabkan oleh dampak sanksi, tetapi ini tidak mengindikasikan adanya krisis ekonomi yang mendasar," kata Chris dengan tegas.
pengeluaran pemerintah dan kerjasama perdagangan dengan India dan Tiongkok juga telah membantu kinerja perekonomian Rusia lebih baik dari perkiraan banyak orang. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Rusia sebesar 1,5% tahun ini, meskipun ada tantangan ekonomi yang signifikan.
(Susi Susanti)