ISU yang diembuskan Ken Arok ke para kaum Brahmana di Kerajaan Kediri menjadi senjata untuk melakukan pemberontakan ke Kretajaya. Saat itu Ken Arok sudah berhasil menguasai Tumapel setelah membunuh Tunggul Ametung sebagai akuwu.
Di Kediri, isu yang diembuskan oleh Ken Arok membuat tensi hubungan antara Brahmana dengan Kretajaya, menghangat. Alhasil mereka meminta sang penguasa itu menemui para kaum brahmana untuk berdiskusi.
Namun, Kretajaya yang bertemu saat berdiskusi dengan kaum brahmana justru mengelak atas tuduhan semua itu. Ia pun berkata bahwa dirinya tidak mau tanggung jawab atas berita informasi tersebut, sebab dirinya tidak mempunyai ambisi yang demikian.
BACA JUGA:
Sebagaimana dikutip dari "Hitam Putih Ken Arok : Dari Kejayaan Hingga Keruntuhan", Kretajaya saat itu memang diketahui telah berkonflik dengan kaum brahmana. Sebab ia sebagai raja Kediri berusaha menaklukkan dan menundukkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kaum brahmana.
Seluruh elemen dan kelompok masyarakat haruslah tunduk dan bersujud di kakinya. Upayanya untuk membuat semua masyarakat tunduk di bawah kekuasaannya itu terhalang oleh kaum brahmana. Sebab, dalam tradisi Hindu, kaum brahmana menempati level teratas dalam stratifikasi sosial, sehingga raja pun tetap berada di bawah brahmana.
BACA JUGA:
Posisi brahmana yang menempati level tertinggi dalam stratifikasi sosial inilah yang digugat oleh Kretajaya. Ia hendak membalik tradisi tersebut dengan menempatkan raja sebagai sosok yang menempati posisi teratas. Konsekuensinya, kaum brahmana harus tunduk dan berada di bawah kendalinya.
Kretajaya yang cenderung mengelak ketika dirinya ditanya, perihal soal kebijakan politiknya yang hendak mendegradasikan wibawa kaum brahmana itu justru membuat kaum brahmana semakin marah. Kaum brahmana justru merasa dipermainkan oleh Kretajaya.