Ratusan tokoh juga menganggap Presiden terus bermanuver untuk menentukan proses Pemilu 2024. Hal itu menurut mereka ditandai dengan menggandengnya kubu politik untuk menjamin masa depan sendiri dan dinasti keluarga.
"Rasa keadilan diinjak-injak. Masa depan bangsa dijadikan permainan kotor," ungkapnya.
"Kami memergoki perilaku politik yang nista dari penguasa dan kalangan atas ini. Ukuran moral, tentang yang adil dan tidak adil, yang patut dan tidak patut telah hilang. Perilaku yang nista itu adalah kolusi dan nepotisme yang dirobohkan oleh gerakan reformasi, seperempat abad lalu," sambungnya.
Mereka pun meminta agar politik di Indonesia diabdikan untuk kedaultan rakyat. Pada akhir maklumati keprihatinan tersebut, mereka mendesak agar pemimpin bangsa terutama Presiden Joko Widodo memberikan teladan kepada masyarakatnya.
"Kami mendesak para pemimpin bangsa, terutama Kepala Negara, Presiden Jokowi, agar memberi teladan, dan bukan memberi contoh buruk memperpanjang kebiasaan membangun kekuasaan bagi keluarga," tutupnya.
Sebagai informasi, 215 tokoh datang dari berbagai kalangan profesi yakni Guru besar, dosen, agamawan, budayawan, mantan duta besar, mantan komisioner pemberantasan korupsi, atlet nasional, pengacara, wartawan; tokoh-tokoh pendidikan, hak azasi manusia, lingkungan hidup; produser, seniman dan pegiat literasi, sastra, teater, seni rupa dan film; tokoh-tokoh relawan Jokowi. Sebanyak 215 tokoh itu di antaranya:
1. A’ak Abdullah Al-Kudus
2. Abdul Choliq W
3. Adinda Silvia
4. Adrianus Suyadi
5. Agnes Sri Poerbasari
6. Agung Hujatnikajennong
7. Agung Wibowo
8. Agus Noor
9. Ahmad Majidun
10. Ali Goik
11. Alif Iman Nurlambang
12. Alifatul Arifiati
13. Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid