Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pertemuan Pangeran Diponegoro dan Sunan Kalijaga di Dimensi Berbeda Saat Bertapa

Avirista Midaada , Jurnalis-Sabtu, 21 Oktober 2023 |08:41 WIB
Pertemuan Pangeran Diponegoro dan Sunan Kalijaga di Dimensi Berbeda Saat Bertapa
Pangeran Diponegoro (Foto: Dok Istimewa/Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Pangeran Diponegoro konon kerap melakukan tindakan spiritual mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dengan melakukan tirakat dan menyepi beberapa waktu untuk meditasi. Hal ini dilakukan Pangeran Diponegoro saat berziarah ke beberapa tempat suci dan areal keramat, yang sering dikaitkan dengan Dinasti Mataram.

Periode menyendiri dan tirakat oleh Pangeran Diponegoro ini dilakukan dengan mundur sejenak dari hiruk pikuk dunia. Hal ini layaknya seperti seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakan suatu tugas khusus yang penting di masa depan.

Tirakat ini memberi kepada seseorang masa jeda untuk menyendiri agar ia dapat membersihkan diri, dari segala macam pamrih. Dikutip dari buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 - 1855" karya Peter Carey, konon selama tirakat di salah satu gua bernama Gua Song Kamal, di distrik Jejeran, selatan Yogyakarta, ada satu penampakan yang datang kepada Pangeran Diponegoro.

Sunan Kalijaga merupakan satu dari sembilan Wali Songo menampakkan diri dalam rupa seorang laki-laki yang wajahnya bersinar bagai bulan purnama. Sang Sunan Kalijaga menyatakan, bahwa Diponegoro telah ditentukan Tuhan untuk menjadi raja di masa depan nanti. Setelah mengatakan demikian, konon penampakan itu langsung menghilang.

Penampakan Sunan Kalijaga dan ramalannya bahwa Diponegoro bakal menjadi raja jelas sangat penting. Sang wali tak sekedar dihormati sebagai penasihat para raja di Jawa Tengah bagian selatan, dan pelindung spiritual Mataram. Tetapi cerita rakyat menjelaskan sebagai tokoh kunci Islamisasi di wilayah itu.

Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, yang berdampingan dengan Masjid Agung Demak masih dihormati oleh para raja Jawa sebagai dua pusaka terpenting di tanah Jawa. Sejak awal abad ke - 16 para peziarah dari berbagai keraton rutin mengunjungi dua tempat itu.

 BACA JUGA:

Pada sejarah perpolitikan Jawa, Kalijaga juga dilihat sebagai tokoh yang memimpin pembagian Jawa di Giyanti. Namun dampak dari Perjanjian Giyanti itu tidak terlalu banyak mempengaruhi sikap Diponegoro. Dimana dirinya sendiri sebagai sosok yang mengatasi pembagian politis semacam itu, karena ia lebih mencintai - citakan untuk memerintah seluruh Jawa sebagai pandita ratu atau imam raja.

 BACA JUGA:

Dari sisi lain, penampakan Sunan Kalijaga ke Pangeran Diponegoro penting karena gaya kepemimpinan politik yang dimainkan Sang Wali, yang legendaris dan delapan wali lainnya dijadikan contoh oleh Pangeran Diponegoro. Seperti Sunan Kalijaga, Diponegoro tidak hanya sampai pada pemahaman dirinya semata-mata sebagai penguasa untuk masa tertentu, tetapi juga sebagai penjaga spiritual para Raja Jawa.

Penampakan Sunan Kalijaga ke mata Diponegoro, seolah membantu melegitimasikan dan mendukung pemberontakan yang terjadi kemudian. Proses ini diperkuat lagi dengan gambaran mimpi Diponegoro, persis sebelum pecahnya Perang Jawa pada 16 Mei 1825, ketika ia menggambarkan pertemuan delapan wali wudhar, yaitu wali yang sedang memangku dakwah spiritual maupun temporal.

(Fakhrizal Fakhri )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement