JAKARTA - Perang Diponegoro, juga dikenal sebagai Perang Jawa, adalah sebuah babak penting dalam sejarah Nusantara. Konflik ini melibatkan Pangeran Diponegoro sebagai tokoh sentral yang memimpin perjuangan melawan pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Berikut alasan mengapa Perang Diponegoro sering disebut sebagai Perang Jawa, meliputi latar belakang perang, geografisnya yang terbatas di Pulau Jawa, dan peran krusial Pangeran Diponegoro.
Berdasarkan lansiran dari berbagai sumber, Senin (23/10/2023). Latar belakang perang ini dapat ditelusuri hingga kedatangan Belanda di Indonesia pada abad ke-17. Setelah berkuasa di wilayah Jawa, Belanda mulai menjalankan politik penjajahan dengan mencaplok wilayah-wilayah dan memaksa penguasa lokal untuk tunduk pada mereka.
Pada saat itu, terjadi ketegangan antara pemerintahan kolonial Belanda dan penguasa lokal di Jawa. Penindasan dan eksploitasi terhadap rakyat serta tuntutan pajak yang berat memicu ketidakpuasan di kalangan masyarakat pribumi. Pangeran Diponegoro menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami rakyat Jawa.
Mengapa Perang Diponegoro Disebut Perang Jawa?
Alasan paling kuat mengapa perang ini disebut sebagai Perang Jawa adalah fokusnya pada wilayah Jawa. Meskipun konflik ini mempengaruhi pulau Jawa secara keseluruhan, wilayah konflik Perang Jawa berpusat di Jawa Tengah dan sekitarnya.
Berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Magelang, dan Semarang menjadi saksi bisu dari pertempuran sengit antara pasukan Diponegoro dan pasukan Belanda. Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, sebagai pusat pemerintahan tradisional di Jawa Tengah, juga memiliki peran kunci dalam perang ini.
Pangeran Diponegoro memobilisasi dukungan dari para bangsawan dan penguasa lokal, yang sebagian besar berada di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. Oleh karena itu, wilayah ini menjadi pusat perjuangan melawan Belanda dan, dalam prosesnya, memberikan identitas kuat kepada perang ini sebagai Perang Jawa.