YERUSALEM – Konflik Palestina dan Israel telah berlangsung sejak 1948, ketika Israel memproklamasikan kemerdekaannya yang mengakibatkan perampasan dan menghambat Palestina untuk menjadi sebuah negara.
Dalam konflik terbarunya, kelompok pejuang Hamas dari Palestina melancarkan serangan terencana ke Israel pada Sabtu, (7/10/2023). Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.000 warga Palestina dan lebih dari 200 orang diculik oleh Hamas.
Dilansir dari History, beberapa negara telah mendorong perjanjian perdamaian antara kedua negara dalam beberapa tahun terakhir. “Solusi dua negara” juga disarankan untuk dilakukan, namun baik dari pihak Palestina dan juga Israel tidak menyetujui hal tersebut.
Lalu, apa sebenarnya yang menjadi inti dari konflik panjang antara Palestina dan Israel ini? Yuk, simak poin-poin berikut ini!
1. Solusi dua negara
Solusi dua negara merupakan sebuah kesepakatan yang diharapkan dapat menciptakan sebuah negara untuk Palestina di wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat. Akan tetapi, kesepakatan ini tidak berakhir dengan baik.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang awalnya mendukung solusi tersebut tiba-tiba mengubah pendiriannya. Ia juga dituduh menjadi dalang yang mengizinkan pemukiman warga Israel di wilayah Palestina.
2. Pembangunan rumah warga Israel di wilayah Palestina
Ketika solusi dua negara dibuat, ada kesepakatan yang menyatakan bahwa Palestina berhak atas wilayah di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Namun, warga Israel bersama dengan dukungan pemerintahannya membangun pemukiman di wilayah yang telah disepakati menjadi bagian dari Palestina.
Perluasan pemukiman warga Israel ini kemudian menjadi perdebatan di antara Palestina, Israel, bahkan komunitas internasional hingga saat ini.
3. Perebutan Yerusalem sebagai ibu kota negara
Pada Mei 2018, ketegangan antara Palestina dan Israel kembali meningkat ketika kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem. Hal tersebut dianggap sebagai sinyal dari AS, sekutu utama Israel, yang mendukung Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Warga Palestina kemudian merespon dengan melakukan protes yang meluas di perbatasan Jalur Gaza-Israel. Protes tersebut berakhir menewaskan puluhan pengunjuk rasa karena kekerasan yang dilakukan oleh pasukan Israel.
4. Masalah para pengungsi yang tidak dapat kembali ke Palestina
Menurut laporan Reuters, sebanyak 5,6 juta pengungsi Palestina telah menetap di negara-negara tetangga, seperti Yordania, Suriah, dan Lebanon. Isu ini juga termasuk ke dalam inti dari konflik Palestina-Israel.
Hal ini dikarenakan sekitar setengah dari para pengungsi tersebut tidak memiliki kewarganegaraan dan harus tinggal di kamp-kamp yang penuh sesak.
Kementerian Luar Negeri Palestina sudah sejak lama menuntut para pengungsi tersebut untuk diizinkan kembali memasuki wilayah Palestina. Namun, Israel menyatakan bahwa relokasi para pengungsi harus dilakukan di luar perbatasannya.
(Susi Susanti)