Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

3 Tidak untuk Israel di Resolusi Khartoum yang "Dikhianati" Pemimpin Arab

Maruf El Rumi , Jurnalis-Senin, 06 November 2023 |08:03 WIB
3 Tidak untuk Israel di Resolusi Khartoum yang
Resolusi Khartoum mulai diabaikan pemimpin Arab.
A
A
A

PALESTINA seperti tengah berjuang sendirian menghadapi agresi Israel di kawasan Arab. Belum ada gerakan nyata yang dilakukan dunia internasional untuk menghentikan genosida yang dilakukan bangsa zionis tersebut, termasuk dari negara negara Arab.

Gerakan baru sebatas mengutuk dan mengirimkan bantuan. Pada saat bersamaan, Israel dengan dukungan Amerika Serikat terus melakukan agresi dengan menghancurkan sekolah, rumah sakit, tempat ibadah dan kawasan lainnya.

Ribuan korban jiwa sudah berguguran, tapi belum ada tanda tanda penghentian. Negara Arab yang menjadi tetangga Palestina juga belum bisa berbuat banyak. Padahal, jauh sebelum agresi yang dimulai sejak 7 Oktober 2023 ada kesepakatan yang disebut dengan Resolusi Khartoum.

Inilah resolusi yang sempat menjadi awal perlawanan negara negara Arab terhadap Israel. Sejauh ini, resolusi tersebut disebut masih menjadi pegagangan Palestina terutama Hamas dalam melawan Israel.

Sejarah Resolusi Khartoum

Resolusi Khartoum adalah sebuah pertemuan antara 8 pemimpin negara Arab pada tanggal 1 September 1967 setelah terjadinya Perang Enam Hari. Konferensi tersebut spesifik membicarakan tentang Israel yang dihadiri di Mesir, Suriah, Yordania, Lebanon, Irak, Aljazair, Kuwait, dan Sudan sebagai tuan rumah.

Disebut Resolusi Khartoum karena konferensi tersebut digelar di Khartoum, Sudan. Konferensi yang membahas khusus persoalan Israel ini dimulai pada 29 Agustus hingga 1 September 1967. Paling terkenal dari hasil konferensi adalah paragraf ke-3 yang dikenal dengan "3 Tidak" untuk Israel.

"Para Kepala Negara Arab telah sepakat menyatukan upaya politik mereka di tingkat Internasional dan diplomatik untuk menghilangkan dampak agresi dan untuk memastikan penarikan pasukan agresif Israel dari tanah Arab yang telah diduduki sejak agresi tanggal 5 Juni.

Hal ini akan dilakukan dalam kerangka prinsip-prinsip utama yang dianut negara-negara Arab, yaitu tidak berdamai dengan Israel, tidak mengakui Israel, tidak melakukan negosiasi dengan Israel, dan menegaskan hak-hak rakyat Palestina di negaranya sendiri."

Tiga Tidak untuk Arab-Israel

1. Tidak akan ada perdamaian (dengan Israel).

2. Tidak Ada pengakuan (dengan Israel).

3. Tidak ada perundingan dengan Israel.

Pemimpin Arab juga bersepakat mengembalikkan wilayah-wilayah yang direbut negeri Zionis itu dalam perang Enam Hari. Resolusi ini berlanjut kepada Perang Yom Kippur tahun 1973, dan mengakhiri embargo minyak Arab yang dinyatakan selama Perang Enam Hari, dan akhir dari perang saudara di Yaman.

Sayangnya, resolusi Khartoum mulai ditinggalkan bahkan dikhinati para pencetusnya. Banyak negara Arab melanggar isi resolusi. Mereka dengan sengaja, terbuka atau tertutup melakukan pertemuan dengan Israel dan sekutunya Amerika Serikat. Mereka juga membuka hubungan diplomasi dengan negara zionis tersebut.

Seperti yang dilakukan Sudan. Mereka menandatangani kesepakatan normalisasi dengan Israel yang disponsori AS pada 2020 bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Maroko.

Seperti ditulis Anadolu Ajensi, kesepakatan normalisasi telah menarik kecaman luas dari Palestina, yang mengatakan kesepakatan mengabaikan hak-hak mereka dan tidak akan melayani perjuangan pembebasan Palestina.

(Maruf El Rumi)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement