MALANG - Laskar Hizbullah menjadi satu dari sekian pasukan yang berjuang pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Dari sekian tentara Hizbullah yang berperang pasukan di bawah komando KH. Masjkur berangkat dari Malang menuju Surabaya untuk membantu masyarakat Surabaya berjuang mengusir Belanda dan tentara sekutu, yang berusaha merebut kemerdekaan.
Pemerhati sejarah Malang Agung H Buana menyatakan, KH Masjkur menjadi satu dari sekian ratusan orang yang dilatih untuk menjadi pasukan cadangan dari PETA. Pasukan cadangan yang dinamakan Hizbullah ini memang seluruhnya beranggotakan muslim, yang dilatih tentara Jepang dan PETA di daerah Cibarusah yang sekarang masuk daerah Bekasi.
"Jadi pemerintah Jepang itu membentuk tentara PETA untuk membantu mereka dalam menghadapi perang dunia ke-2, menghadapi sekutu. Laskar Hizbullah itu penempatannya sebagai pasukan cadangan, karena permintaan dari para ulama, sehingga tokoh-tokoh Islam waktu itu kurang lebih ada 500 orang itu dilatih di bawah tentara Jepang dan PETA," ucap Agung H Buana ditemui MPI di Kota Malang.
Selain dilatih secara militer, para tokoh Islam ini juga dipersenjatai oleh tentara Jepang sebagai tentara cadangan. Ketika pelatihan sudah selesai, sekitar 500 orang diminta kembali ke daerah masing-masing dan mendirikan pasukan Hizbullah di daerahnya.
"Salah satu pasukan Hizbullah ini adalah KH Masjkur yang ada di Singosari. KH Masjkur inilah yang membentuk Hizbullah di Malang, bersama Mayjen Imam Soedja'i, dia adalah Panglima Divisi Untung Suropati TKR yang membawahi Malang dan sekitarnya karasidenan," tuturnya.
Setelah pasukan terbentuk, KH Masjkur dan Mayjen Imam Soedja'i memberikan latihan kepada para pasukan dan santri dari sejumlah pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.
Agung mengaku sedikit mengetahui perjuangan Laskar Hizbullah Malang besutan KH Masjkur dan Mayjen Imam Soedja'i, karena mendapat cerita dari kakek buyutnya yang juga turut menjadi anggota pasukan Hizbullah. Sang kakek bahkan turut dilatih tentara Jepang dan PETA di Cibarusa, yang kini masuk daerah Bekasi.
"Ternyata kakek saya ini tidak sendirian, jumlahnya 500 orang, latihan bergelombang. Kakek saya yang gelombang pertama yang dilatih di Cibarusah, yang melatih tentara PETA dan Jepang, dikasih keterampilan bertempur," terangnya.
Bahkan secara khusus KH. Masjkur juga memberikan pelatihan kepada para santri di pondok pesantren (Ponpes) Bungkuk Singosari, sebelum akhirnya pasukan Hizbullah berangkat ke Surabaya untuk bertempur melawan tentara sekutu. Total sekitar ada 500 orang pasukan Hizbullah. Satu di antaranya adalah KH Masjkur asal Singosari, Malang.
"Kemudian membuat pasukan Hizbullah dan laskar-laskar lebih kecil lagi di Malang dan sekitarnya. Dari laskar-laskar inilah kiai dan santri melakukan perlawanan ke tentara sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia," tuturnya.
Para pasukan Hizbullah dari berbagai daerah di Malang Raya dan sekitarnya itu kemudian berkumpul di Masjid Sabilillah Blimbing, sebelum berangkat ke Surabaya. Alasannya kawasan Blimbing dinilai strategis sebagai titik temu dari beberapa pondok pesantren.
"Karena pertigaan Blimbing itu sangat strategis, arah Tumpang, Pakis lewat situ arah Batu lewat situ, sehingga di Sabilillah itu tempat berkumpulnya tentara laskar Hizbullah untuk menuju ke Surabaya. Sehingga dinamakan masjidnya Masjid Sabilillah," katanya.
Dari situ ada sekitar 168 orang pasukan yang berkumpul di Masjid Sabilillah Malang. Namun pada perjalanan berangkat ke Surabaya pasukan Laskar Hizbullah ini berkembang menjadi banyak orang karena melintasi beberapa pondok pesantren mulai dari Malang, Pasuruan, hingga sampai di Sidoarjo.
"Akhirnya lama-lama menjadi membesar membesar, dan besarnya bisa sampai 500 sampai 1.000 orang, itu berjalan terus akhirnya berkumpullah titik kumpulnya di Surabaya, pemberhentian pertama di sebuah pabrik gula di Sidoarjo," tuturnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)