Setelah peristiwa tersebut, Syarif Hidayat kemudian menetap di kampung Bantargebang dan menjalani seluruh hidupnya di sana. Syarif Hidayat pun memiliki nama lainnya yaitu Mbah Kyai Wali Husein atau yang dikenal dengan Mbah Husein hingga pada akhir hayatnya.
Pembentukan Desa Bantargebang
Pembentukan Desa Bantargebang bermula setelah Belanda menyerah pada Jepang pada tahun 1942, Kampung Bantargebang dipimpin oleh Bapak Saiten sementara Kampung Cikiwul dipimpin oleh Bapak H. Patonah.
BACA JUGA:
Pada tahun 1950, kedua kampung tersebut pun disatukan hingga menjadi satu desa dengan Kepala Desa yaitu Bapak Saiten. Awalnya, desa tersebut diberi nama Sukawayana hingga pada akhirnya berganti menjadi Layungsari.
Pada 1993, Desa Layungsari mengalami perpecahan hingga menjadi dua desa, yaitu Desa Ciwikul yang dipimpin oleh M. Harun dan Desa Bantargebang yang dipimpin oleh H.M. Nur Hasanuddin Karim.
BACA JUGA:
Selanjutnya, berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bekasi No.2 Tahun 2002 tentang Penetapan Kelurahan, semua desa di Kota Bekasi berubah status menjadi kelurahan, termasuk Desa Bantargebang yang kemudian berubah menjadi Kelurahan Bantargebang.
Hingga kini, Bantargebang menjadi sebuah kecamatan di Kota Bekasi, Indonesia dengan 4 kelurahan yaitu, Kelurahan Bantargebang, Kelurahan Cikiwul, Kelurahan Ciketing Udik, dan Kelurahan Sumur Batu.
Itulah sejarah panjang serta asal usul dinamakannya Bantargebang yang membentuk kisah menarik hingga menjadi sebuah wilayah yang produktif.
(Nanda Aria)