JAKARA - Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta, Ngabila Salama, menegaskan pelaksanaan program penyebaran nyamuk Wolbachia untuk mencegah wabah demam berdarah dengue (DBD) aman untuk manusia.
"Banyak hoax, asumsi, provokasi yang meresahkan masyarakat diviralkan untuk menolak program baik ini," ujar Ngabila, Jumat (1/12/2023).
Ia menyebutkan hasil studi dan riset yang sudah dipaparkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta kerap dibelokkan dengan narasi di media sosial.
"Wolbachia sebagai inovasi untuk menurunkan kasus dan kematian DBD menjadi rekomendasi utama dari WHO untuk pengendalian penyakit dan terbukti berhasil di banyak negara termasuk Myanmar dan Laos," ucapnya.
Yogyakarta, kata dia, sudah membuktikan selama 10 tahun terakhir. Hasilnya, 77 persen menurunkan kasus, 86 persen menurunkan perawatan RS, dan 83 persen menurunkan penggunaan fogging.
Ngabila menyebut, Wolbachia aman untuk manusia (karena tidak bisa hidup di tubuh manusia), nyamuk aedes aegepty (karena tidak dilakukan rekayasa genetik dan merupakan bakteri alami pada persen serangga), dan lingkungan (ramah lingkungan, tidak merusak ekosistem atau keseimbangan dengan makhluk hidup lain).
"Justru kalau kasus DBD terus meningkat, dilakukan fogging ini berpotensi nyamuk dan virus mutasi dan serangga lain ikut terganggu," tuturnya.
Staf Teknis Komunikasi Transformasi Kesehatan Kemenkes RI tersebut mengungkapkan, ada lima alasan wolbachia nyamuk baik perlu didukung:
1. Sangat aman untuk manusia (host), nyamuk aedes aegepty itu sendiri (agent), dan lingkungan (environment).
2. Sudah ada penelitian dari Kemendikbud secara independen bukan dari peneliti utama UGM bahwa efek wolbachia jangka panjang bisa diabaikan saking kecilnya baik untuk manusia, nyamuk, lingkungan
3. Manusia bukan kelinci percobaan, karena saat ini fasenya sudah perluasan program dari best practice inovasi yogya selama 10 tahun terakhir. 6 daerah perluasan bukan uji coba tetapi sudah implementasi program hasil studi panjang
4. Semua hoax jahat yang beredar sudah dapat dijawab secara ilmiah dan sempurnanya oleh Kemenkes RI mohon masyarakat cerdas untuk mencari info valid dari semua kanal medsos Kemenkes.
5. Implementasi inovasi yg data driven policy itu no debat, dasar penelitiannya sangat kuat sudah terpublikasi internasional, angka efektivitas penurunan kasus, perawatan RS dan fogging 80-90 %
"Wolbachia ini vaksinasi, untuk nyamuk aedes aegepty, dari yang tadinya nyamuk jahat pembawa virus DBD, jadi nyamuk baik yang nggak bawa virus DBD. Aman deh kalau gigit manusia, gak bikin sakit! Bentol doang kayak nyamuk kebon," ungkapnya.
Meskipun sudah 78 tahun Indonesia merdeka, Ngabila sangat sedih masih banyak warga terutama anak sakit dan meninggal karena DBD.
"Wolbachia inovasi menurunkan kasus dan kematian DBD karya anak bangsa dan berbasis data hasil penelitian internasional yg terbukti. Riset dan data dibantah jangan dengan narasi sesat, asumsi, provokasi tanpa bukti," tuturnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)