ITALIA - Ribuan orang menghadiri pemakaman seorang siswi berusia 22 tahun yang kematiannya memicu periode refleksi nasional di Italia.
Giulia Cecchettin dibunuh beberapa hari sebelum mendapatkan gelar sarjananya yang diduga dilakukan oleh mantan pacarnya yang posesif pada November lalu.
Upacara pemakaman yang berlangsung di Kota Padua disiarkan langsung di televisi pemerintah.
Kematiannya memicu protes besar dan seruan untuk lebih banyak perlindungan bagi perempuan.
Mantan pacar mahasiswa teknik biomedis tersebut, Filippo Turetta, dikabarkan tak bisa menerima jika dirinya mengakhiri hubungan mereka. Dia mengaku melakukan pembunuhan setelah penangkapannya.
Gambaran meja kerja Cecchettin yang kosong pada hari dia seharusnya lulus membuat banyak wanita Italia merasa sikap patriarki sudah mengakar.
Ayah Cecchettin, Gino, menyampaikan permohonan emosional selama upacara agar kematian putrinya menjadi titik balik dalam mengakhiri pelecehan dan pembunuhan terhadap perempuan.
Upacara tersebut diakhiri dengan para pelayat yang menggoyangkan kunci mereka ketika peti mati meninggalkan gereja, sebuah seruan simbolis agar kekerasan tidak ditoleransi secara diam-diam.
Kasus ini mendominasi berita utama Italia dalam beberapa pekan terakhir di tengah demonstrasi besar di kota-kota di seluruh negeri yang menyebabkan Perdana Menteri (PM) Giorgia Meloni berjanji untuk meningkatkan perlindungan bagi perempuan.
PM perempuan pertama Italia itu menjanjikan kampanye pendidikan baru di sekolah-sekolah untuk memerangi apa yang dia gambarkan sebagai budaya kekerasan misoginis yang masih tersebar luas di Italia.
(Susi Susanti)