Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kesaksian Teman Alung, Mengaku Dibohongi soal Pembunuhan Fitria Wulandari

Putra Ramadhani Astyawan , Jurnalis-Kamis, 07 Desember 2023 |15:56 WIB
Kesaksian Teman Alung, Mengaku Dibohongi soal Pembunuhan Fitria Wulandari
Teman Alung mengaku dibohongi soal pembunuhan Fitria Wulandari (Foto: MPI)
A
A
A

BOGOR - Hakim, rekan dari Rahmat Agil alias Alung yang membunuh kekasihnya Fitria Wulandari angkat biacara terkait kejadian tersebut. Pemuda itu mengaku tidak terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut karena juga sempat dibohongi oleh pelaku.

Kepada wartawan, Hakim menceritakan kejadian itu berawal ketika Alung datang ke rumahnya sekira pukul 04.00 pada Jumat 1 Desember 2023. Ketika itu, Alung datang meminta pertolongan kepadanya.

"Jadi Alung dateng ke rumah nyamper sekitar adzan subuh pada hari Jumat. Dia meminta tolong dan meminta bantuan kepada saya. Itu dia belum menceritakan kejadiannya apa. Dia hanya meminta bantuan dan saya diajak," kata Hakim saat ditemui wartawan di rumahnya, Kamis (7/12/2023).

Oleh Alung, Hakim dibawa ke sebuah penginapan di wilayah Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Di lokasi, Alung mengaku bahwa kekasihnya Wulan telah mengalami kecelakaan jatuh dari motor.

"Nah, waktu di situ saya diajak ke penginapan. Udah gitu saya masuk ke dalam kamar dalam keadaannya gelap. Gak lama dia nyalakan lampu kan dan saya kaget melihat almarhun Wulan udah di kasur terbaring dengan keadaan luka di pelipis sama di hidung bagian kiri yang luka. Saya bertanya kepada Alung, "ada apa ini?' Alung ngejawab cuman jatuh dari motor dalam keadaan sedang mabuk," ungkapnya.

Hakim menyarankan untuk segera membawa korban ke rumah sakit. Tetapi, Alung malah meminta untuk membantu mengantarkan korban ke rumahnya.

"Di situ saya menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit. Namun, pas di situ Alung bilang mau dibawa pulang aja ke rumahnya soalnya katanya wmWulan pengen ketemu mamahnya," tambah Hakim.

Keduanya bersiap membawa korban ke rumahnya dengan menggunakan motor. Alung menggotong tubuh korban dan Hakim membawa barang-barang.

"Singkat cerita saya bebenah kamar hotel. Terus dia bilang bawain sprei di bawah ranjang kasur. Terus saya bawa dan masukin ke helm. Terus saya bawa motor dari depan kamar ke ruangan resepsionis untuk balikin kunci. Di situ saya mau ngembalikan kunci, tapi kata Alung dia aja yang balikin kunci. Saya disuruh pegangin Wulan. Gak lama dia bilang gantian aja yang bawa motornya, dia bawa motor," bebernya.

Di parkiran motor, sempat ada juru parkir yang menghampiri. Ketika ditanya kondisi Wulan, Alung mengaku korban hanya dalam pengaruh alkohol.

"Nah gak lama ada tukang parkir dia nanya. Kata alung biasa mabuk. Bapaknya (juru parkir) juga nolongin (naikin motor)," tambahnya.

Mereka pun berangkat menuju rumah Wulan berbonceng tiga dengan posisi Alung membawa motor, korban di tengah dan Hakim di belakang.

"Lewat Jalan Johar dan buang sprei di Jalan Tentara Pelajar. Sprei itu saya pas buang, pas saya mau lepar ke tong sampah ada angin tuh itu kebentang kan ada darahnya dan bau anyir juga," ucapnya.

Dalam perjalanan, Hakim sempat curiga karena Wulan sama sekali tidak memberi respon. Tetapi, Hakim masih mengira Wulan dalam kondisi lemas.

"Curiganya pas di jalan pas saya pegangin pundak Wulan. Udah gak ada pergerakan sama sekali di situ. Tapi, saya berusaha buat tenang, saya gak tau kejadiannya kan soalnya dia cuma bilang jatoh dari motor. Saya pikir karena dia lemes atau karena apa. Saya mikirnya gitu doang," terangnya.

Sesampainya di depan gang rumah korban, Alung berubah pikiran dan mengajak Hakim untuk membawa Wulan ke ruko kosong di Jalan Semeru, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Di lokasi, keduanya sempat beristirahat dan Alung mengajak agar korban dimasukan ke dalam ruko.

"Sampai di ruko abis itu di ruko diturunkan Wulan disenderkan (rolling door) di ruko kosong itu. Habis itu dia bilang nyimpen motornya balik lagi keadaan jalan. Saya waktu itu ke warung beli rokok dan segalanya macem lah, abis itu dia minta (tolong) lagi kayanya Wulan masukin ke dalam aja dah. Yaudah saya bilang kan, udah gitu ngangkat Wulannya saya bawa tasnya segala macem barang-barangnya ditidurkan di meja di ruko itu," tuturnya.

Tak lama, Hakim pun pamit untuk kembali pulang ke rumahnya. Dari situ, Hakim tidak mengetahui kejadian selanjutnya, hingga akhirnya dipanggil oleh polisi untuk dimintai keterangab sebagai saksi.

"Saya pulang kata dia ambil aja kembalian di warung buat ongkos pulang tapi saya gak ambil, saya pulang jalan kaki. Abis itu gak tau lagi," sambungnya.

Di sisi lain, Hakim mengaku bahwa Alung hanya teman lama semasa duduk di bangku SMP. Alung diketahuinya kerap membawa Wulan ketika sedang nongkrong dengan teman-temannya.

"Waktu dulu satu sekolah di SMP, cuma dia dikeluarin kan. Dulu pernah nongkrong bareng juga. (Hubungan Alung dan Wulan) saya gak tahu karena Wulan sering dibawa Alung saya mikirnya ini (mereka) pacaran nih, mikirnya gitu doang," ujar Hakim.

Kejadian ini dijadikannya sebagai pelajaran berharga untuk kemudian hari. Rencananya, Hakim dan keluarga akan takziah ke rumah orangtua Wulan.

"Dijadiin pelajaran aja yang udah mah lah. Baru mau sekarang (ke rumah keluarga korban)," tutupnya.

Sebelumnya, Fitria Wulandari ditemukan tewas dalam ruko di Jalan Semeru, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor pada Sabtu 2 Desember 2023 malam. Korban langsung dibawa ke RS Polri Kramatjati, Jakarta.

Hasil penyelidikan, polisi menangkap sang kekasih yakni Rahmat Agil alias Alung yang membunuh korban dengan cara dibekap. Pengakuan pelaku, korban menolak ketika hendak diputusin pelaku.

Sadisnya, korban sempat dibiarkan di dalam ruko kosong oleh pelaku. Lalu, pelaku sempat merekayasa kematian korban berdalih karena kecelakaan.

(Angkasa Yudhistira)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement