JAKARTA - Ibu Kota Nusantara (IKN) merupakan sebuah upaya dalam mengakselerasi pembangunan, meratakan pertumbuhan, dan memberdayakan wilayah Indonesia Timur. Keputusan menetapkan IKN di Pulau Kalimantan diharapkan menjadi katalis untuk mengembangkan pusat-pusat ekonomi baru, mencakup Pulau Kalimantan dan seluruh wilayah Indonesia Timur.
Hal ini diungkapkan Septriana Tangkary, Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kementerian Komunikasi dan Informatika, dalam acara bertema "Mewujudkan Visi Smart City dalam Transformasi Ibu Kota Nusantara" di Makassar melalui siaran persnya, dikutip Jumat (8/12/2023).
Septriana menyoroti pentingnya peran serta masyarakat dalam proses pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan Timur, sambil menegaskan kebutuhan akan strategi komunikasi publik yang efektif.
Dia menekankan bahwa sejumlah aspek, termasuk aspek sosiologis, geografis, geopolitik, dan ekonomi, harus dipertimbangkan secara menyeluruh dalam rencana pemindahan IKN. Ia menambahkan, aspek-aspek ini akan tetap menjadi topik perbincangan dalam masyarakat ke depannya.
Sementara Direktur Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN, Agus Gunawan, mengungkapkan tentang sembilan generator ekonomi utama di IKN, seperti Pusat Pemerintahan Nasional, Pusat Ekonomi, Bisnis, dan Keuangan, Energi Terbarukan, Pusat Hiburan dan Olahraga, Layanan Edukasi, Inovasi dan Riset, Pusat Distribusi dan Perdagangan Komoditas.
Kemudian, Pusat Agroindustri dan Industri Pangan, dan Pusat Kegiatan Pertanian dan Perikanan. Agus menambahkan, prinsip pengembangan energi di IKN melibatkan Resilience, Affordability, dan Sustainability, dengan target memenuhi 100% kebutuhan energi melalui kapasitas energi terbarukan.
“Untuk mencapai Key Performance Indicator (KPI) 100 persen energi terbarukan dan net zeroe mission pada tahun 2045 di IKN, diperlukan transisi energi dalam penyediaan tenaga listrik. Transisi energi dilakukan melalui pembangkit listrik terbarukan yang didukung oleh sistem penyimpanan, pemanfaatan pasokan listrik dari sistem ketenagalistrikan Kalimantan yang terdiri dari generator energi baru terbarukan,dan penerapan sistem jaringan cerdas (smartgrid),” ujarnya.
Plt. Kepala Dinas Kominfo Kota Makassar Ismawaty Nur menyampaikan mengenai konsep Smart City di Makassar, yang menciptakan integrasi antara teknologi Smart City dengan kearifan lokal yang disebut Somberé, melambangkan keramahan, kebaikan, dan persaudaraan. Baginya, Smart City harus memberikan pelayanan publik yang efisien, mudah diakses, dan berakar pada nilai-nilai lokal.
“Somberé dan smart city merupakan platform dan induk kota pintar Makassar. Somberé dan smart city is when high touch meets hightech. Artinya, pelayanan publik dengan hati yang lebih cepat, efisien, mudah diakses. Smart city bagi Kota Makassar harus berujung pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Wawan Puji Siswanto, seorang content creator di bidang konstruksi, mengakhiri presentasinya dengan merinci beberapa kemajuan pembangunan IKN, termasuk PLTS 50MW, Multi-Utility Tunnel (MUT), Bendungan Semoi, Rumah Menteri, dan Jembatan Balang.
Dia menekankan bahwa pemindahan Ibu Kota tidak hanya merujuk pada perpindahan pusat pemerintahan dari Jakarta, melainkan sebuah langkah menuju peradaban yang lebih baik demi mewujudkan visi Indonesia Emas, Indonesia Unggul, dan Indonesia Maju pada 2045.
“Pemindahan ibu kota tidak semata-mata memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta ke Nusantara, tetapi memindahkan peradaban, kebiasaan-kebiasaan lama ke arah yang lebih baik guna menyongsong Indonesia Emas, Indonesia Unggul dan Indonesia Maju Pada Tahun 2045,” ujar Wawan.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.