Dua organisasi inilah yang menempa Ganjar untuk tidak hanya bergulat pada bacaan ide dan pemikiran, juga diaplikasikan dalam dunia organisasi gerakan.
Salah satu sepak terjang Ganjar dalam aksi demo adalah memimpin gerakan protes bernama "Bangkit," sebuah aksi moral membangun kesadaran agar mahasiswa-mahasiswa nasionalis di UGM untuk bangkit dan melawan rezim orde baru.
Waktu itu Ganjar dan kawan-kawannya memakai kaos putih, bergambar Bung Karno berwarna merah dengan bertuliskan “Bangkit” dan “Generasi Demokrat Kampus.”
Sikap Ganjar yang kritis dan cerdas langsung memikat hati Soetardjo Soerjogoeritno atau akrab disapa Mbah Tarjo, seorang senior di GMNI, yang juga politisi dan anggota DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) saat itu.
Mbah Tarjo pula yang membuka jalan politik bagi Ganjar dengan bergabung di Partai Demokrasi Indonesia, yang sekarang dikenal sebagai PDI Perjuangan.
Anggota DPR hingga Pansus Century
Usai tamat dari Fakultas Hukum UGM, Ganjar sempat bekerja di lembaga konsultan HRD di Jakarta, yaitu PT Prakarsa. Di perusahaan ini, Ganjar bekerja selama 4 tahun, mulai 1995-1999.
Meskipun bekerja kantoran, Ganjar tetap aktif sebagai aktivis dan terjun ke politik dengan bergabung di PDI. Pada tahun 1996, PDI memiliki konflik internal antara pendukung Soerjadi dan Megawati Soekarnoputri sebagai representasi trah Bung Karno.
Ganjar berada di kubu Megawati Soekarnoputri, dan resmi bergabung dengan PDI Perjuangan. Dia kemudian maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada pemilu 2004.