Percakapan mereka tidak berhenti di situ. Sang tentara dengan nada tegas bertanya, "Siapa namamu?" Hoegeng menjawab, "Saya Hoegeng."
Melirik wajah Hoegeng, tentara tersebut tiba-tiba merasa malu. Ia meminta untuk diturunkan sebelum sampai di tempat tujuan, mungkin karena mengenali sosok Hoegeng.
"Kenapa harus turun di sini? Mari, Hoegeng antar ke tempat tujuan," ujar Hoegeng dengan senyuman di wajahnya.
Sang tentara tidak menjawab dan memilih buru-buru turun sambil mengucapkan terima kasih kepada Hoegeng, tanpa berani melihat wajah Hoegeng.
(Arief Setyadi )