Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Benny Moerdani Ternyata Pernah Mondok di Cepu, Simak Kisahnya

Irfan Ma'ruf , Jurnalis-Minggu, 31 Desember 2023 |06:20 WIB
Benny Moerdani Ternyata Pernah Mondok di Cepu, Simak Kisahnya
Benny Moerdani. (Ist)
A
A
A

Dari Operasi Naga ke Cendana

Karier militer Benny dimulai di usia sangat belia. Dia baru duduk kelas 1 SMP Negeri IV Banjarsari ketika turut dalam penyerangan kempetei di Solo pada 12 Oktober 1945. Tak lama setelah itu, dia bergabung dengan Tentara Pelajar. Seiring perjalanan waktu, melalui Pusat Pendidikan Angkatan Darat (P3AD), Benny meniti karier militernya.

Menurut Julius Pour, Benny memulai pelatihannya pada 1951 dan terpilih ikut pendidikan tambahan di Sekolah Pelatih Infanteri (SPI). Begitu lulus tahun 1952, pangkatnya Letnan Cadangan (Pembantu Letnan Satu). “Ia ditempatkan sebagai instruktur dalam Sekolah Kader Infanteri. Pada tanggal 4 Juli 1954, Benny dilantik menjadi Letnan Dua Infanteri dan resmi sebagai perwira militer professional,” tulis Pour dalam ‘Benny: Tragedi Seorang Loyalis’ (hal 37).

Pertautan Benny dengan Soeharto dimulai ketika berlangsung operasi pembebasan Irian Barat (kini Papua) dari cengkeraman kolonial Belanda. Benny yang berpangkat mayor dari pasukan elite Resimen Para Komando Angkatan Darat memimpin Operasi Naga. Atasannya langsung yaitu Soeharto yang ditugasi sebagai Panglima Komando Mandala. Keberanian Benny di medan tempur, semangat pantang menyerah dan tekad baja melawan musuh, dicermati Soeharto.

Benny petarung sejati. Dia gemilang menumpas pemberontakan PRRI/Permesta serta pantang mundur di garis depan konfrontasi Indonesia-Malaysia. Tapi salah satu pencapaian monumentalnya terjadi saat berlangsung peristiwa pembajakan pesawat Woyla oleh Komando Jihad di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand. Benny yang kala itu Asintel Hankam menjadi aktor penting mengorkestrasi pembebasan sandera.

Kedekatan dengan Cendana tak terbendung ketika Soeharto merestuinya langsung sebagai Panglima ABRI menggantikan Jenderal TNI M Jusuf. Terdapat cerita menarik bagaimana Pak Harto menginginkan Benny untuk memegang tongkat komando tertinggi ABRI.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengungkapkan, ketika memutuskan Benny sebagai Panglima, Soeharto menggunakan caranya yang sangat khas: kalem dan halus. Maksudnya, Soeharto tak langsung menyebut nama Benny sebagai penerus Jusuf, melainkan dengan kode tertentu.

Saat disodorkan tiga nama jenderal bintang tiga: Himawan Susanto, Yogie S Memet dan Soesilo Sudarman, penguasa Cendana itu justru mencari 'anak emas'-nya.

“Benny ada di mana sekarang?” tanya mantan Pangkostrad itu, ditulis Prabowo dalam buku biografinya ‘Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto’.

Pertanyaan ini jelas sebuah sinyal. Dalam pandangan Prabowo, tidak mungkin Pak Harto tidak tahu di mana Benny Moerdani berada.

Adapun Jusuf mengakui dirinya semula tak merekomendasi Benny sebagai calon Pangab. Bukan apa-apa, ahli intelijen itu baru bintang dua, tak pernah jadi pangdam, juga belum pernah mengenyam pendidikan Seskoad.

Apa lacur, Soeharto bergeming. Tidak hanya dipasrahi jabatan Pangab, Benny juga diplot sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamnan dan Ketertiban (Pangkopkamtib).

Siapa pun tahu, Kopkamtib semula dibentuk Harto untuk membersihkan sisa-sisa PKI. Tapi, lembaga ini lama-lama menjadi ‘organisasi super’ dan acap diidentikkan sebagai tameng Soeharto untuk membabat semua gerakan/tindakan yang berlawanan dengannya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement