MALANG - Tiga rangkaian kereta api dari Jember terpaksa melintasi wilayah Stasiun Malang akibat perubahan perjalanan imbas anjloknya KA Pandalungan. Ketiga rangkaian kereta ini seharusnya melintasi Stasiun Surabaya Gubeng, namun karena anjloknya KA Pandalungan di emplasemen Stasiun Tanggulangin, Sidoarjo, perjalanan mereka diubah.
Manajer Humas PT KAI Daop 8 Surabaya Luqman Arif mengatakan, hingga pukul 13.00 WIB, Minggu siang (14/1/2024) empat rangkaian perjalanan kereta api terdampak anjloknya KA Pandalungan.
Keempatnya terpaksa memutar dari Stasiun Bangil melalui Stasiun Bangil, melalui Malang dan Kertosono.
"Ada tiga kereta dari Jember yang terdampak, dan satu kereta dari Malang," kata Luqman Arif, dikonfirmasi pada Minggu siang (14/1/2024).
Empat rangkaian perjalanan kereta ini yakni KA Ranggajati (115) relasi Jember - Surabaya Gubeng - Cirebon, KA Logawa (211) relasi Jember - Surabaya Gubeng - Purwokerto, KA Sritanjung (241) relasi Stasiun Ketapang Banyuwangi - Surabaya Gubeng - Lempuyangan, dan satu kereta dari Malang KA Jayabaya (107) relasi Stasiun Malang - Surabaya Gubeng - Surabaya Pasar Turi - Jakarta Pasar Senen.
"Bagi pelanggan dengan tujuan Surabaya, KAI Daop 8 Surabaya menyediakan bus sebagai sarana pengganti," ucap dia.
Sebelumnya diberitakan, KA Pandalungan relasi Stasiun Jakarta Gambir - Surabaya - Jember mengalami anjlok di emplasemen Stasiun Tanggulangin, Sidoarjo, pukul 07.57 WIB. Terlihat dari video yang beredar, lokomotif KA Pandalungan keluar jalur rel sesaat sebelum masuk Stasiun Tanggulangin Sidoarjo.
Akibatnya sejumlah perjalanan KA jarak jauh, maupun KA Commuter Line di lintas Surabaya - Sidoarjo - Pasuruan - Malang pun terpaksa direkayasa oleh PT KAI. Beberapa penumpang yang terpaksa mengembalikan reservasi tiketnya.
PT KAI sendiri saat ini sudah berhasil mengevakuasi rangkaian gerbong KA Pandalungan yang masih di rel. Sedangkan lokomotif KA Pandalungan masih proses evakuasi hingga pukul 14.00 WIB. Proses evakuasi melibatkan beberapa tim penolong dari Depo Sidotopo, Depo Surabaya Pasar Turi, Depo Malang, serta juga crane dari Stasiun Solo.
(Angkasa Yudhistira)