PADA masa kepemimpinan Panembahan Senapati terdapat suatu wilayah dikenal dengan wilayah Mangir. Sebuah wilayah yang berdekatan dengan wilayah Kerajaan Mataram Islam di Kotagede. Namun wilayah Mangir tersebut merupakan salah satu wilayah yang dikelola sendiri, bebas dari pajak serta memiliki kuasa penuh atas wilayahnya, istilah lainnya ialah wilayah perdikan di bawah pimpinan Mangir Wanabaya III.
Berdasarkan kutipan dari website budaya.jogjaprov.go.id, Jumat (26/1/2024). Mangir Wanabaya III dikenal sakti dengan senjata Tombak Baru Klinting. Karena senjata tersebutlah Panembahan Senapati belum berani melawan Mangir Wanabaya III secara langsung untuk menundukan wilayah Mangir di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam.
Suatu kali dengan bantuan Ki Juru Martani salah seorang perintis Mataram Islam, ia membuat siasat dengan memerintah para punggawa mengamen di wilayah Mangir ditemani dengan Ki Dalang Sandi Guna. Tak lupa dengan didampingi Raden Ajeng Pembayun, putri Panembahan Senapati yang dibuat seolah-olah putri dari Ki Dalang Sandi Guna. Singkat cerita, Raden Ajeng Pembayun berhasil memikat hati sosok Mangir Wanabaya III atau yang biasa dipanggil Ki Ageng Mangir tersebut hingga ke jenjang pernikahan.
Setelah menjadi istri Ki Ageng Mangir, Raden Ajeng Pembayun menyatakan bahwa sebenarnya dia adalah anak dari Panembahan Senapati yang telah pergi dari rumah karena tidak mau dijadikan wanita hadiah untuk calon suami yang sama sekali tidak dicintai. Tak lama tersiar kabar dari Kerajaan Mataram Islam, bahwa siapa saja yang dapat menemukan anaknya yakni Raden Ajeng Pembayun, maka akan mendapatkan hadiah.
Mendengar kabar tersiar tersebut, Ki Ageng Mangir beserta Raden Ajeng Pembayun sepakat untuk mengirim surat kepada Panembahan Senapati yang isinya mengabarkan bahwa mereka berdua akan segera menghadap Panembahan Senapati di Kerajaan Mataram Islam. Panembahan Senapati membalas untuk segera menghadap di bulan Syawal, sekaligus merayakan pernikahan keduanya di Kerajaan Mataram Islam.
Tiba saatnya untuk menghadap, Ki Ageng Mangir bersama istri serta para abdi menemani. Lalu belum sampai tujuan, Ki Ageng Mangir memerintah setengah pasukannya untuk kembali, karena merasa kalau terlalu banyak nanti dikira akan berperang. Namun ternyata Ki Ageng Mangir diminta mengurangi pasukannya kembali setelah sampai di selatan Gandok. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan dalam diri sosok Ki Ageng Mangir, namun beliau memilih untuk meneruskan perjalanan.
Setelah sampai di Gerbang Kemandungan, senjata Tombak Baru Klinting harus dicondongkan, padahal condongnya Tombak Baru Klinting merupakan pantangan. Selanjutnya Ki Juru Martani dengan lembut menawarkan agar senjata Ki Ageng Mangir dititipkan saja kepadanya dan menyuruh Ki Ageng Mangir segera masuk menghadap Panembahan Senapati beserta istrinya.
Saat Ki Ageng Mangir masuk tanpa senjatanya dan sungkem menundukan kepala, Panembahan Senapati langsung memegang kepala Ki Ageng Mangir dan dipukulkan ke batu gilang singgasananya. Ki Ageng Mangir saat itu juga meninggal dan dimakamkan di Makam Raja-Raja Mataram Kotagede. Adapun jenazahnya dimakamkan setengah dibagian dalam dan setengah lagi dibagian luar. Alasan ini ialah karena Ki Ageng Mangir merupakan menantu sekaligus Musuh Panembahan Senapati.
(Awaludin)