“Yang pasti 10 hari menjelang hari H ini adalah masa konsolidatif, di mana hasil sebetulnya akan ditentukan oleh tenaga Guraklih (tenaga penggerak pemilih) yang bekerja langsung di akar rumput yang memastikan paket capres-cawapres dan legislator mana yang akan dipilih oleh masyarakat,” kata Agus.
Agus mengatakan naiknya tensi politik nasional terkait polemik bantuan sosial (bansos) berpengaruh pada dinamika pemilihan Capres-Cawapes di akar rumput.
Apalagi sejumlah kampus sudah mulai bergerak. Tapi harus diingat, ujarnya, bahwa komposisi terbanyak pemilih di Indonesia bukan di perkotaan, tapi di pedesaan.
Artinya, lanjut Agus, besar kecilnya pengaruh dari publikasi kampanye nasional, penjelasan tentang bansos, harus dapat tersampaikan secara sederhana kepada para pemilih di pedesaan.
Gampangnya, kata Agus, citra Jokowi sebagai pemberi Bansos, jika bisa terus diklarifikasi oleh para Guraklih dengan baik kepada masyarakat di non-perkotaan, bukan tidak mungkin, elektabilitas Prabowo-Gibran maksimal akan berada di angka 41%, sementara Ganjar-Mahfud akan berada di kisaran 36%, dan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Cak Imin) di angka 22%.