KUNINGAN - Para Kiai dari Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Akademisi dari berbagai perguruan tinggi, dan ormas besar, menggelar pertemuan lewat "Petisi Linggarjati" dengan menyatakan keprihatinan atas kondisi kebangsaan yang mengkhawatirkan.
Pertemuan tersebut berlangsung di Halaman Gedung Perundingan Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Selasa 6 Februari 2024. Mereka menyoroti penyalahgunaan kekuasaan, politisasi bansos, dan fenomena lunturnya nilai-nilai kebangsaan. Kiai dan Akademisi menilai tindakan ini mengancam demokrasi dan pendidikan politik kebangsaan yang baik.
"Teman-teman para Kiai para Akademisi itu merasa ada keprihatinan menyimak perkembangan kehidupan politik nasional sekarang ini. Oleh karena itu suara ini perlu terus digaungkan, perlu terus disampaikan," ungkap Ketua PD Muhammadiyah Kuningan, Ustadz Dadan dalam keterangannya, Rabu (7/2/2024).
"Sehingga kemudian para penyelenggara negara ini, insyaAllah merasa diingatkan karena kalau tidak ini, ini bisa akan membawa dampak yang tidak kita harapkan," sambungnya.
Sorotan mengenai tindakan merusak moral dan etika kebangsaan, seperti cawe-cawe dalam pemilu, penyalahgunaan kekuasaan, penggunaan fasilitas negara, dan politisasi bansos juga digaungkan. Hal itu dinilai akan semakin memudarkan nilai-nilai kebangsaan dan netralitas pejabat publik dalam pemilu.
"Menurut kami berarti pejabat yang bersangkutan tidak memahami gitu ya, sehingga kemudian nanti dari netralitas menjadi diabaikan. Oleh karena itu, semoga para pejabat yang bersangkutan bisa menyadari, sehingga kehidupan kebangsaan kita menjadi baik-baik saja," tuturnya.
Selain itu, KH Aang Asy'ari, Pembina Forum Silaturahmi Pesantren Kuningan & Direktur Aswaja Center Kuningan (Forsenku), juga menyuarakan hal yang sama mengenai keprihatinan terhadap kondisi politik nasional. Ia menegaskan, bahwa suara ini perlu terus digaungkan dan disampaikan agar para penyelenggara negara dapat diingatkan terhadap perkembangan politik yang dinilai prihatin.
"Kita dari berbagai elemennya dari NU, Muhammadiyah, MUI, kami hadir ke sini bukan dalam konteks lembaga, ini adalah suara pribadi," kata KH Aang.
Pertemuan ini juga berencana untuk menyuratkan pesan kepada Presiden, mereka menekankan pentingnya suara moral dari berbagai elemen masyarakat.
Tujuannya adalah untuk menciptakan pemilu yang jujur, adil, dan bermartabat. Meski suaranya bersifat pribadi, KH Aang menyatakan bahwa ini merupakan ikhtiar dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar demi kepentingan bangsa.
"InsyaAllah ada, surat ini akan kami sampaikan kepada para pihak yang menurut kami berkepentingan, siapapun. Kami saling mengingatkan sesama anak bangsa supaya menghasilkan suatu pemilu yang jujur, adil, dan bermartabat," kata KH Aang.
Pernyataan ini ditutup dengan harapan untuk mengembalikan nilai-nilai moral dan etika kebangsaan berdasarkan Pancasila serta Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Masyarakat diharapkan bersatu dalam menjaga integritas dan keadilan dalam proses demokrasi.
Berikut beberapa tokoh yang hadir antara lain, KH Dodo Syarif Hidayatulloh MA, Ketua MUI Kuningan, KH Oding, Ketua Forum Kiai dan Dai Kuningan, KH Ma’shum Abdullah, Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) Kuningan, Dr Nanan, Rektor Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Kuningan, Dr Iskandar dosen Universitas Kuningan (UNIKU), Dr Fahrus dosen Universitas Kuningan (UNIKU), Dr Ugin, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kuningan, Dr Aep Saepudin, Wakil Rektor I Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan, para Kiai pengasuh pesantren, dan para dosen lintas perguruan tinggi Kuningan, Jawa Barat.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.