JAKARTA - Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 diperkirakan bakal berlangsung dua putaran. Hal tersebut diungkapkan Agus Riewanto, seorang pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Sebelas Maret (UNS).
Sehingga wacana Pilpres 2024 satu putaran yang diperjuangkan Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran) bakal sulit terwujud. Agus menilai wacana mengenai hal tersebut mungkin hanyalah taktik untuk menjaga kepercayaan pendukung mereka.
"Menang 50% dari survei belum tentu menang pertarungan. Lembaga survei itu menggiring opini untuk calon yang dianggap sudah settle karena psikologi pemilih lebih yakin kepada calon yang dianggap menang. Padahal, kenyataannya tidak begitu karena memang tidak mudah," ujar Agus dalam keterangannya, Rabu (14/2/2024).
Agus menekankan, hasil survei yang menunjukkan kemenangan belum tentu mencerminkan situasi sebenarnya dalam arena politik. Baginya, lembaga survei dapat memengaruhi opini masyarakat dengan mengarahkan pemilih kepada calon yang dianggap sudah memimpin, walaupun pada kenyataannya keadaan politik tidak selalu demikian.
Ia juga menjelaskan persyaratan pilpres satu putaran yang tercantum dalam Pasal 416 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu). Menurut peraturan tersebut, pasangan kandidat dapat langsung memenangkan pilpres jika meraih suara lebih dari 50 persen plus 1, dan mereka juga harus memenangkan di minimal mengantongi 20 persen suara dari total provinsi di Indonesia.
"Suara mayoritas itu, dalam tradisi electoral study, disebut dengan suara yang mendapatkan dukungan minimal 50% plus 1. Dalam Pilpres Indonesia itu, masih ada kreasi lagi. Jadi, tidak hanya 50% plus 1, tetapi juga ditambah menang di setengah jumlah provinsi," kata Agus.
Agus menyatakan, hingga saat ini belum ada pasangan Capres-Cawapres yang berhasil mendominasi suara di 19 provinsi, sehingga terwujudnya Pilpres satu putaran dianggap sebagai suatu hal yang sulit. Ia menyoroti bahwa hasil survei yang diumumkan oleh kubu Paslon 02 Prabowo-Gibran mungkin lebih bersifat taktis untuk membentuk keyakinan pemilih daripada mencerminkan realitas politik.
"Jadi, kalau dari konstruksi itu sebenarnya agak sulit untuk memenuhi menang satu putaran. Tapi, kalau survei-survei yang selama ini digaungkan oleh 02, menurut saya, itu hanya strategi politik untuk menggiring keyakinan pemilih kepada calon yang kemungkinan bakal menang," tuturnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.