NEW YORK - Warga negara Amerika Serikat (AS) yang memiliki keturunan India sering disebut sebagai Orang India-Amerika.
Mengutip sumber lain, ungkapan Indian Asia dan Indian Timur digunakan untuk menghindari kebingungan dengan penduduk asli Amerika yang juga sering disebut sebagai "Indian" atau "Indian Amerika".
Diketahui jumlah populasi Amerika keturunan India lebih dari 4,4 juta, sehingga membentuk sekitar 1,35% dari total populasi Amerika, dan menjadi kelompok terbesar dari orang Amerika keturunan Asia Selatan, serta kelompok terbesar dari orang Amerika keturunan Asia. Orang India-Amerika juga merupakan kelompok etnis dengan pendapatan tertinggi di AS.
Berdasarkan rekam sejarah, suku asli AS dikenal sebagai suku Indian, yang mengalami pembantaian oleh para imigran Eropa, yang mengendalikan wilayah tersebut.
Sejak berdirinya, AS telah merampas hak-hak hidup, politik, ekonomi, dan budaya suku Indian melalui tindakan pembantaian, pemindahan, dan upaya asimilasi yang dipaksakan.
Semua ini dilakukan dengan tujuan untuk memberantas secara fisik dan budaya keberadaan penduduk asli tersebut. Bahkan hingga saat ini, masyarakat Indian masih menghadapi tantangan eksistensial yang serius.
Lantas, apakah benar jika etnis Indian di AS punah? Berdasarkan Foreign Policy, kejahatan terhadap penuduk asli Amerika telah dilakukan secara konsisten, menjadikan tindakan tersebut sebagai kejahatan genosida.
Melansir China Embassy Gov, pada 4 Juli 1776, AS dibentuk melalui Deklarasi Kemerdekaan, yang mencakup pernyataan merendahkan terhadap penduduk asli Amerika sebagai "Savages" dan menggambarkan mereka sebagai penghalang untuk ekspansi Eropa.
Para pemimpin AS pada masa itu memperlakukan penduduk asli dengan keyakinan superioritas kulit putih, yang mengarah pada genosida budaya dan penyerangan terhadap suku-suku Indian selama Perang Kemerdekaan, Perang Kemerdekaan Kedua, dan Perang Saudara.
Melalui Homestead Act 1862, pemerintah AS memberikan insentif bagi warga kulit putih untuk merebut tanah Indian, menyebabkan pembantaian massal. Retorika kebencian dan kekejaman terhadap orang Indian mewarnai budaya AS pada saat itu, dengan pemburuan bison Amerika dan pembantaian orang Indian menjadi praktik umum.
Sejak kemerdekaannya pada 1776, AS telah melancarkan lebih dari 1.500 serangan terhadap suku-suku Indian, bahkan memberikan hadiah untuk setiap tengkorak suku Indian yang diserahkan. Perang pemusnahan juga dipicu oleh perburuan emas di California, di mana tengkorak orang Indian dihargai dengan uang.
Para ahli akademis telah mengadopsi istilah "genosida" untuk mengkritik kebijakan AS terhadap suku Indian Amerika sejak tahun 1970-an.
Buku seperti "American Holocaust" oleh David E. Stannard dan "A Little Matter of Genocide" oleh Ward L. Churchill menyoroti tindakan kekerasan terhadap suku Indian.
Para akademisi, termasuk Roxanne Dunbar-Ortiz, menegaskan bahwa tindakan genosida sebagaimana didefinisikan dalam Konvensi Kejahatan Genosida, jelas terjadi pada suku Indian.
Media juga menyoroti masalah ini, dengan laporan yang menuntut pengakuan resmi dan perubahan kebijakan. Meskipun beberapa langkah permintaan maaf telah diambil oleh pemerintah AS, belum ada pengakuan resmi terhadap kejahatan genosida terhadap penduduk asli Amerika.
Dengan demikian, situasi ini mencerminkan kemunafikan pemerintah AS dalam menangani masalah hak asasi manusia dan keadilan rasial di negara itu.
(Susi Susanti)