5. Wong wadon lacur ing endi-endi
Munculnya perilaku amoral atau tidak bermoral di kalangan perempuan dianggap sebagai penerapan ramalan ini. Di mana, banyak perempuan lacur.
6. Umah ala saya dipuja
Rumah maksiat makin dipuji. Ini mencerminkan mungkin meningkatnya penerimaan terhadap perilaku yang sebelumnya dianggap tabu atau tidak etis.
7. Sedulur pada mangan sedulur
Saudara makan saudara tidak rukun. Mungkin merujuk pada meningkatnya persaingan dan ketidaksolidan di antara anggota masyarakat atau bahkan dalam keluarga sendiri.
8. Akeh uwong kaliren lan wudo
Banyak orang lapar dan telanjang. Kesenjangan sosial dan kemiskinan masih menjadi masalah di Indonesia, dan ramalan ini tampaknya mencerminkan hal itu.
9. Akeh barang kang harom
Banyak barang haram. Hal ini bisa merujuk pada peningkatan perdagangan ilegal atau barang-barang terlarang di Indonesia.
10. Akeh udan salah mangsa
Datangnya masa di mana hujan salah musim. Perubahan iklim dan pola cuaca yang tidak menentu bisa menjadi penjelasan untuk ramalan ini.
11. Kereta tanpa kuda, pesawat, rel kereta, dan hilangnya pasar
Ramalan tersebut berbunyi, seperti ini “Mbesuk yen ana kreta mlaku tanpa jaran, tanah Jawa kalungan wesi, prahu mlaku ing dhuwur awang-awang, kali ilang kedunge pasar ilang kumandange. Iku tanda yen tekane jaman Joyoboyo wis cedak”
Bila diartikan, kurang lebih seperti ini “Besok kalau sudah ada kereta berjalan tak berkuda, tanah Jawa berkalung besi, perahu berjalan di atas angkasa, sungai kehilangan lubuknya, pasar hilang kumandangnya, itulah tanda bahwa zaman Jayabaya semakin dekat.
Meskipun beberapa kejadian tersebut tampak sesuai dengan ramalan Jayabaya, penting untuk diingat bahwa interpretasi terhadap ramalan tersebut bisa bervariasi dan beberapa di antaranya mungkin merupakan kebetulan semata.
*wallahualam bissawab
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.