Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

6 Fakta BRIN Beberkan Korban Bencana di Indonesia, Banyak Sesar Gempa yang Belum Terpetakan

Awaludin , Jurnalis-Kamis, 04 April 2024 |03:16 WIB
 6 Fakta BRIN Beberkan Korban Bencana di Indonesia, Banyak Sesar Gempa yang Belum Terpetakan
Illustrasi (foto: dok freepik)
A
A
A

PENELITI Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, mencatat secara global Indonesia menjadi salah satu negara dengan korban bencana alam terbesar pada rentang tahun 2.000-2018.

Indonesia menjadi negara terbesar kedua setelah Haiti. Berikut sejumlah faktanya:

1. Indonesia Korban Terbanyak Bencana Alam

"Secara global Indonesia menjadi salah satu negara dengan korban bencana alam terbesar pada rentang tahun 2.000-2018, yang mana sebanyak 185.677 korban," ujar peneliti BRIN, Nuraini Rahma Hanifa dalam webinar Pemetaan Sesar Pulau Jawa serta Mitigasi Risiko Bencana Geologi oleh BRIN, Rabu (3/4/2024).

Pertama itu Haiti sebanyak 230.063 korban, kedua Indonesia, ketiga Myanmar sebanyak 139.624 korban, dan kempat China sebanyak 112.593 korban. Korban jiwanya cukup banyak akibat gempa bumi dan bisa dibayangkan Pulau Jawa ini 50 persen penduduk Indonesia tinggal di Jawa.

2. Indonesia Punya 295 Patahan Aktif

Menurut peneliti BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, melihat tektoknik di Jawa, Indonesia punya 295 patahan aktif, yang mana secara Internasional didefinisikan patahan aktif sebagai yang pernah setidaknya ada gempa dalam 1 kali dalam 10 ribu tahun. Pihaknya memetakan 295 patahan aktif di 2017, dan di 2024 pihaknya sedang melakukan pemutakhiran sumber gempa ini dan yang dipahami sudah bertambah hampir 400 sumber gempa.

"Disini kalau kota overlay kan dengan jumlah penduduk di Indonesia maka sekitar 200 juta penduduk Indonesia itu bisa mengalami goncangan gempa dengan intensitas 6 keatas atau sekitar 77 persen dan ada 4 juta jiwa yang tinggal diatas patahan sehingga konsen besar," katanya.

3. Pentingnya Teliti Patahan Baribis-Kendeng di Jawa Barat

 

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Sonny Aribowo menyebutkan, pentingnya untuk melakukan penelitian terhadap patahan Baribis-Kendeng lantaran patahan itu mengarah ke Jakarta. Pasalnya, saat terjadi gempa, Jakarta bisa berdampak.

"Jejak patahan Baribis-Kendeng menjadi sama ke arah Jakarta. Ini sangat penting tuk dilakukan penelitian karena Jakarta salah satu daerah penduduk padat dan infrastruktur mewah dan kuat sehingga ketika ada terjadi gempa bumi di patahan ini itu patahan ini di Jawa Barat akan sangat mengganggu Jakarta," ujarnya dalam webinar Pemetaan Sesar Pulau Jawa serta Mitigasi Risiko Bencana Geologi oleh BRIN, Rabu (3/4/2024).

4. Banyak Sesar yang Belum Terpetakan

 

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Sonny Aribowo menerangkan, sejumlah gempa bumi di Jawa justru muncul dari sesar yang belum terpetakan. Maka itu, perlu waspada untuk sesar yang belum terpetakan dengan memetakan kembali patahan-patahan itu.

Dia menambahkan, perlunya kerjasama dengan berbagai pihak untuk dapat melanjutkan studi sesar aktif di Jawa, dan secara luas di Indonesia. Dalam hal ini funding BRIN dengan skema RP Kebencanaan, RIIM invitasi, BMKG dengan IDRIP, Badan Geologi, Universitas dan lain lain dapat saling melengkapi.

 

5. BRIN Bakal Luncurkan Program Kolaborasi Pemetaan Sesar Aktif

 

Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ocky Karna Radjasa mengatakan, BRIN bakal meluncurkan program kolaborasi pemeteaan sesar aktif di Pulau Jawa. Hal itu untuk mengantisipasi ancaman bencana, khususnya gempa.

Dia menambahkan, banyak periset BRIN aktif terlibat dalam riset dan inovasi pemetaan sesar aktif yang dilakukan secara kolaboratif dengan BMKG, Badan Geologi, serta perguruan tinggi dan Kemen PUPR yang memfasilitas pusat studi gempa nasional yang terus melakukan perkembangan dan pemutakhiran studi sesar aktif.

"BRIN pada tahun 2024 ini akan meluncurkan 1 program srategis terkait kolaborasi, yaitu Skema Riset Inovasi untuk Indonesia Maju, Ekspedisi Sesar Aktif Jawa dan diharapkan ini akan membika peluang kerja sama stakeholder. Maka itu, terima kasih pada semua peneliti yang akan berbagi pengetahuan pengalaman terkait sesar aktif," katanya.

6. Adanya Ancaman Bencana Sesar Darat

 

Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ocky Karna Radjasa mengatakan, Pulau Jawa bukan pulau terbesar, tapi pulau yang memiliki banyak penduduk. Sehingga, ancaman gempa bumi di pulau Jawa juga tak hanya disadari berasal dari jalur subtruksi, tapi juga perlunya mengembangkan riset yang menunjukan adanya ancaman bencana sesar darat, yang lokasinya berdekatan kota besar seperti Jakarta, Cirebon, Semarang, Surabaya, dan Bandung.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement