GAZA - Sejak invas Israel di jalur Gaza 7 Oktober tahun lalu, korban tewas Palestina melonjak mencapai angka 34.488 orang. Dalam kondisi tersebut, dua sekutu Israel Amerika Serikat dan Inggris justru menekan Hamas untuk menerima tawaran gencatan senjata di Gaza.
Kantor berita Palestina WAFA, mengutip sumber dari tim medis menyebutkan selain 34.488 meninggal, ada 77.643 lainnya mengalalmi luka akibat agresi tanpa jeda tersebut. Bahkan dalam 24 jam terakhir setidaknya 34 orang tewas dan 68 lainnya terluka dalam serangan Israel pada Senin (29/4/.
"Masih banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan karena tim penyelamat masih belum dapat menjangkau mereka," tulis WAFA mengutip sumbernya. Amerika Serikat dan Inggris pun masih menjadikan Hamas sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Salah satunya saat mereka meminta agar pejuang Hamas menerima tawaran gencatan senjata Israel. Permintaan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron. Dia mengungkapkan, proposal Israel yang disampaikan kepada Hamas mencakup gencatan senjata selama 40 hari dan pembebasan “kemungkinan ribuan” tahanan Palestina sebagai imbalan atas pembebasan beberapa sandera Israel.
Menurut Cameron, tawaran tersebut merupakan bentuk kemurahan hati dari Israel. “Saya berharap Hamas menerima usulan mereka,” katanya, dan menekankan bahwa perang tidak akan berakhir sampai semua tawanan dibebaskan.
Tawaran gencatan senjata 40 hari ini muncul dalam pertemuan ke Mesir untuk menghentikan perang Israel yang tiada henti di Gaza. Pejuang Hamas dipimpin Khalil al-Hayya yang menjadi wakil ketua di Jalur Gaza.
Hamas telah berulang kali mengatakan bahwa mereka menginginkan diakhirinya pertempuran secara permanen sebagai bagian dari kesepakatan untuk membebaskan tawanan. Di satu sisi, menteri garis keras Israel memperingatkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahwa pemerintahannya akan runtuh jika gencatan senjata disepakati dengan Hamas dengan imbalan tawanan.
Israel meminta kurang dari 40 dari 130 atau lebih tawanan yang ditahan Hamas, dan sebagai imbalannya, mereka akan membebaskan tahanan Palestina. “Mereka harus mengambil keputusan – dan mereka harus mengambil keputusan dengan cepat… Saya berharap mereka akan membuat keputusan yang tepat,” kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dikutip Al-Jazeera.
(Maruf El Rumi)